Minggu, 14 Februari 2021

Kacangin Aja!



Eh, maaf kelupaan. Karena kenyang plus ada urusan di tengah jalan. Sambungan curcolkemarin baru bisa aku pos hari ini.

 

Dikacangin. Rasanya sakit banget bukan? Ya iyalah. Namanya juga manusia. Mana ada sih manusia yang mau disepelekan atau direndahkan oleh manusia yang lain?

 

Begitulah dula saya berpikir. Pengalaman hidup sudah mengajarkan banyak hal. Ego kita serigkali mengalahkan akal kita. Padahal manusia dikaruniai Allah Ta’ala dengan akal. Ini yang membedakan dengan mahlukNya yang lain.

 

Dengan akal kita menimbang. Dengan akal kita mengukur. Seberat apa rasa sakit yang kita rasakan. Sejauh apa efek yang menimpa kita atas perbuatan kita. Di situlah seharusnya ada titik balik atas keegoisan kita. Pun dengan penulis.

 

Hidup berpuluh tahun. Berbagai peran pekerjaan telah dilewatkan. Suka dan duka telah dilalui. Sehat dan sakit telah dialami. Dihargai dan dikacangin datang silih berganti. Seperti datangnya siang dan malam.

 

Hingga pada satu kesimpulan: mau ngacangin, kacangin aja!

 

Aku tetap berikhtiar untuk bekerja secara profesional dan proporsional. Tetap bekerja dengan hasil yang terbaik. Kerja dibayar maupun kerja sosial. Toh, semuanya akan kembali pada diriku. Atau keluargaku. Jika aku berbuat baik, tentu buah baik yang aku petik. Demikian sebaliknya. Simpel saja.




Jikalau merasa tidak cocok, tinggal bilang. Jika tak ditanggapi dengan baik, easy going sajalah. Jika tak kuat jalan, tinggal berhenti saja. Karena yang bisa menakar kekuatanmu adalah dirimu sendiri.

 

Dikacangin adalah proses untuk mendewasakan dirimu. Ambil nilai positifnya. Meski terkadang terasa amat sesak di awalnya. Berat untuk menerima keadaan yang sudah terjadi.

 

Wis ngunu wae ya. Ini sudah mau sarapan dulu. Hahaha….

Sabtu, 13 Februari 2021

Dikacangin



Pernah nggak kalian merasa digitukan? Gimana rasanya? Sakit? Atau biasa-biasa saja?

 

Nah, penulis pun sering mengalami lho. Apalagi berhubungan dengan ‘orang-orang baru’. Yang bukan dari komunitas pekerjaan kamu sebelumnya. Atau mereka yang tidak tahu pengalaman kerja kamu sebelumnya.

 

That’s way, any way, bus way…

Di situlah mental kalian diuji. Mau jadi pecundang. Yang biasa-biasa saja. Boleh juga akan menghantam balik orang yang ngacangin kamu.

 

Semua kembali kepada diri kalian sendiri. Kembali pada ego masing-masing. Mau mundur. Jalan selow wae. Dobrak! Kesemuanya itu dengan cara yang positif tentu saja.

 

Penulis berpikir bahwa ketiga cara tersebut tidak mudah. Tapi tidak sulit juga jika sudah berulang kali try and error. Meski sering errornya daripada corectnya. Ya nggak?

 

Pun dengan pengalaman penulis. Semuanya sulit. Tapi karena pengalamanlah yang bisa membuat itu menjadi mudah. Kata teman gang sebelah: lha pancen njenengan kuwi ndableg kok, mas. Hahaha…

 

Yups. Ndableg inilah yang jadi jalan ninjaku. Tak mau jadi pecundang. Tapi ogah juga kalau disuruh gedor-gedor. Pegel. Menguras energi. Yang kadang benefitnya malah minus. Impas saja alhamdulillah. Meski kata orang-orang: untuk sukses butuh perjuangan yang keras!




Penulis sih lebih percaya pada peredaran nasib. Bekerja keras. Berusaha keras. Tak lupa berdoa yang kenceng. Urusan hasil, biarlah Gusti Allah yang membayarnya. Hehehe…

 

Uwong urip kuwi sawang-sinawang. Kita melihat orang lain kok enak banget hidupnya. Padahal kerjanya cuma gitu-gitu saja. Sementara di sudut lain, ada yang bekerja mati-matian. Hidupnya ya gitu-gitu saja. Tanpa kita paham jerohannya seperti apa. Paham sampai di sini?

 

Lanjut…

 

Dulu penulis sering berpikir demikian. Kok enak banget hidupnya. Padahal kerjanya gitu-gitu saja. Sampai suatu saat. Duaaarrr…! Mleduk.

 

Kejadian luar biasa bertubi-tubi. Tiba-tiba sang suami dicokok polisi. Lalu isterinya minta cerai. Tak berselang lama usahanya gulung tikar. Gak nunggu sebulan, suaminya mati dalam penjara. Lanjut kasus sengketa warisan sang isteri dengan anak-anaknya. Ceritanya sampai masuk berita tv. Menjadi headline di Koran-koran. Plus sosmed emak-emak.

 

Ok yes. Cerita sambung nanti ya. Penulis mau sarapan dulu. Nyicipi Soto Lamongan depan balai desa.

[14/02/2021  7.27 AM]

Rabu, 30 September 2020

Yogyakarta International Airport, Bandara Megah Nan Eksotik

 

Salah satu spot favorit pengunjung bandara.

Bandara Yogyakarta International Airport, nampak begitu megah dan cantik dari kejauhan. Dari atas bus Gege, berbagai sudut menarik dapat ditangkap mata kamera. Jarak 40-an kilometer ditempuh dengan 1,5 jam. Tentu saja dengan kecepatan yang sedang-sedang saja. 2 bus yang mengangkut 50 peserta Seminar On The Road sekitar jam 09.30 WIB tiba di Terminal B Bandara YIA. Demikian sebutan untuk bandara baru tersebut.


Destinasi wisata di Bantul siap menerima para wistawan kembali.


Rombongan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan di Bantul disambut langsung oleh Agus Pandu Purnama, GM. PT. Angkasa Pura l Yogyakarta. Didampingi oleh Kadinpar Kab. Bantul (Kwintarto Heru Prabowo, S.Sos.) yang akan memimpin upacara peringatan Hari Pariwisata Sedunia. Nampak hadir pula para pejabat Pemprov. DIY, BPPD Kab. Bantul dan Kab. Kulonprogo, perwakilan Pemkab. Sleman, serta perwakilan Bank BPD DIY Cabang Bantul

Tari Kidung Mantra oleh siswa SMKI Yogyakarta


Sebelum acara seremonial dimulai, terlebih dahulu tampil para siswa SMKI Yogyakarta. Mereka menampilkan Tari Kidung Mantra dengan apik dan rampak. Nampak para pengguna bandara pun begitu tertarik untuk mengabadikan. Sehingga pihak sekuriti berkali-kali mengingatkan penonton untuk tidak bergerombol.

Suguhan menarik sehingga banyak pengunjung yg tak mau ketinggalan ikut mengabadikan.


Tari yang menggambarkan proses penghambaan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga manusia selalu ingat akan keberadaannya di dunia fana ini. Manusia dituntut untuk selalu berbuat baik. Agar terhindar dari musibah, kutukan dan malapetaka yang dahsyat. Dan berharap bila musibah itu datang, segera diredakan oleh Sang Pemilik Jagad.

Jaga aman jaga diri, jaga kesehatan bersama.


Acara dilanjut dengan upacara seremonial yang dipimpin oleh Kadinpar Kab. Bantul. Empat orang pejabat menyampaikan sambutannya. Salah satu sambutan yang cukup menarik disampaikan oleh GM. PT. Angkasa Pura l, Agus Pandu Purnama. Bahwa pada bulan Agustus yang lalu, bandara YIA telah memperoleh pengakuan sebagai bandara ‘save travel’ dari WTA (World Travel Association). Seluruh prosedur keamanan dan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19 telah disiapkan dan dilaksanakan dengan baik.

Kadispar Kab. Bantul memimpin upacara peringatan Hari Pariwisata Sedunia tahun 2020.


Sementara itu dalam sambutannya, Kwintarto Heru P., S.Sos., selaku Kadispar Kab. Bantul mengucapkan terima kasih kepada pihak pengelola Bandara YIA dan Pemkab Kulonprogo. Kegiatan kolaborasi ini menjadi penanda bahwa imbas pandemi ini dirasakan bersama. Harapan ke depannya, kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan.



Di akhir upacara, secara bersama-sama dibunyikan keprak manuk dan otok-otok. Alat permainan tradisional yang kini mulai ditinggalkan oleh generasi kekinian. Memberi makna filosofis mengusir wabah. Agar selalu beranjak pergi dari bumi Nusantara, bahkan dunia. Sekaligus penanda puncak peringatan Hari Pariwisata Sedunia oleh Dinas Praiwisata Kab. Bantul.

Pemandangan kolam ikan di terminal kedatangan lt. 2 dilihat dari terminal keberangkatan.


Rangkaian acara berikutnya sangatlah menarik. Sekaligus cukup membuat lutut bergetar. Hehehe...

Miniatur gumuk/bukit pasir dr Pantai Parangtritis, salah satu destinasi favorit di Yogyakarta.


Menyusuri bandara sejak gerbang masuk terminal keberangkatan hingga gate keberangkatan/terminal penumpang. Satu kilometeran jarak yang harus ditempu menuju gate check-in ke pesawat. Maka himbauan agar 3 jam calon penumpang datang sebelum check in sangatlah masuk akal. Selain menghindari keterlambatan, sekaligus memberi kesempatan kepada calon penumpang untuk menikmati disain interior bandara yang artistik.

Pemandangan yang memanjakan mata kamera Anda. 


Terminal keberangkatan yang terbagi menjadi 3 terminal ini berada di lantai 3. Sepanjang jalur keberangkatan para calon penumpang disuguhi diorama, bangunan, maupun patung yang sangat artistik. Di sepanjang dinding koridor masuk, ‘bau khas Yogyakarta’ begitu kuat tercium. Sehingga beberapa penumpang pun tak mau melewatkan kesempatan untuk berswafoto. Sekaligus sejenak melupakan kepenatan.

Kami siap mengantar Anda menuju gate keberangkatan.

Terminal ATM yang cukup representatif.


Oh ya, bagi Anda yang memiliki keterbatasan fisik, pihak bandara juga menyediakan boogie car. Fasilitas ini dapat dinikmati dengan gratis. Demikian juga yang butuh penarikan uang tunai. Disediakan terminal ATM di terminal keberangkatan maupun kedatangan.

Outlet oleh-oleh yang cukup komplit.

Ayo mau ke mana? 


Tak ketinggalan, berabagai outlet oleh-oleh khas Jogja tersedia di sepanjang jalur maupun terminal penumpang. Di Pasar Kotagede, dapat kita jumpai beragam barang souvenir, jajanan, maupun makanan siap saji. Siap ‘membunuh waktu’ menunggu jadwal keberangkatan.

Di sana, Anda akan selalu kangen dengan Yogya.


Selasa, 29 September 2020

Seminar On The Road: Pranatan Anyar Plesiran Jogja

 

Kami harus memberikan solusi di tengah pandemi.

Tak ada yang diuntungkan dari pandemi ini. Demikian satu kalimat yang terlontar dari Malia Uti. Salah satu nara sumber Seminar On The Road. Kegiatan yang dihelat oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Ahad (27/9) kemarin. Acara yang digelar untuk memperingati Hari Pariwisata Sedunia ke-40 ini mengambil tema “Bantu - Tourism in New Normal Era: Cleanliness, Health, Safety, and Environtmental”.


Enam sampai tujuh bulan bukanlah waktu yang pendek untuk ‘tiarap’. Para pelaku industri pariwisata sudah banyak yang kolaps. Sebagaimana yang terjadi di Provinsi DIY. Dimana pada tahun 2018, tercatat pergerakan wisatawan baik wisman maupun wisnus sebesar 26.515.788. Dimana prediksi tahun 2019 lebih dari 30 juta wisatawan. [Sumber: Statistik Kapriwisataan DI Yogyakarta 2018]


Seminar di atas jalan asyik juga ternyata.

Khusus untuk wilayah Kabupaten Bantul tercatat sebanyak 8.840.442 wisatawan. Bila angka akurasi meleset  5% saja, maka hampir 10 juta wisatawan yang bekunjung di tahun 2018. Sementara itu, menurut catatan dari Dinas Pariwisata Bantul bahwa kunjungan wisatawan adalah lebih dari 3 juta pada 2019 kemarin. Kunjungan ke obyek-obyek wisata yang tersebar di 17 kecamatan se-Kabupaten Bantul.


Tercatatat kunjungan terbanyak adalah di Pantai Parangtritis. Salah satu pantai yang masih menjadi jujugan terfavorit bagi para wisatawan. Tercatat 2,5 juta wisatawan yang berkunjung. Dengan pemasukan sebesar 23,7 milyar. Hampir 80% pendapat sektor pariwisata Bantul 2019 berasal dari Pantai Parangtritis.


Bertebaran spot cantik sepanjang perjalanan.

3.000 kunjangan wisatawan di hari biasa. Sementara 5.000-an kunjungan di akhir pekan tentu bukan angka yang main-main. Namun efek pandemi, di bulan Agustus 2020 kemarin ‘hanya’ mencatatkan angka 32.000. Sebulan pasca dibukanya secara bertahap dengan protokol kesehatan yang cukup ketat. Lanjut Dra. Malia Uti yang merupakan anggota Divisi Tour dan Promosi ASITA Prov. DIY., sekaligus anggota Badan Promosi Pariwisata Kab. Bantul.


Kreasi di tengah pandemi yang digagas oleh Dinpar Kab. Bantul ini diharapkan menjadi solusi. Bagaimana tetap bisa beraktivitas secara bersih, sehat, aman, dan berwawasan lingkungan tentu saja. Tidak mudah memang. Namun tak ada yang tak mungkin. Bagaimana semua lini yang sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali ‘bisa bernafas’. Meski tetap dengan melaksanakan pembatasan-pembatasan tertentu.


Para pedagang kecil inilah penggerak ekonomi masyarakat sesungguhnya.

UMKM inilah penggerak sejati roda perekonomian di lapisan menengah dan bawah. Sebagaimana usaha transportasi yang telah, sedang, dan akan menjadi andalan. Seiring dengan telah dibukanya Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Dimana diprediksikan akan terjadi 20 juta pergerakan penumpang per tahunnya. Meski badai pandemi menghantam di tahun pertama operasionalnya.


Jarak bandara lumayan jauh dari pusat kota. Tentu ini akan membuka peluang baru. Menumbuhkan dan mengembangkan sektor pariwisata yang berdekatan dengan bandara. Kab. Kulonprogo dan Kab. Bantul harus dapat menangkap peluang tersebut. Apalagi beberapa pantai eksotik di wilayah Bantul, jaraknya cukup dekat dengan bandara baru ini. [bersambung...]

Senin, 30 Desember 2019

Mau Untung Malah Buntung

Interior kamar tidur sebuah apartemen. (foto istimewa)

Yogya – Nataru. Yogya - Natal dan Tahun Baru. Ibarat seorang Cinderella yang menantikan Sang Pangeran-nya. Perasaan ingin segera bertemu dengan sang pujaan hatinya.

Tak pelak, hampir seluruh tempat wisata penuh. Jalanan macet di sana dan di sini. Pun jalanan yang hari-hari biasa lengang. Seperti halnya jalanan ke arah Gunungkidul. Yang daerahnya kini menjadi pesona baru bagi wisatawan.

Minggu, 22 Desember 2019

Ranking Kelas Bukan Segalanya




“Bi, maaf ya. Kayaknya Ana gak dapat ranking kali ini.”

“Kenapa, Mbak?” tanyaku santai.

“Ada tiga pelajaran yang kurang meyakinkan. Nilainya maksudku,” ucapnya sambil mempermainkan jari-jari tanganku. Kebiasaan sedari kecil. Saat dia ingin bercerita kepadaku.

Jumat, 20 September 2019

Tetap Senyumlah Untuk Dunia, Silfiku Sayang

Silfi yang tetap optimis meski nyeri itu selalu tak mau enyah. (foto dokpri)

“Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas. Bukan pula keikhlasan jika masih merasa sakit.”

Sebuah kalimat bijak yang kini harus dijalani oleh ananda Silfi. Nama panggilan dari Silfi Qumairo. Yang kini hanya bisa berbaring lemah. Atau terpaksa duduk karena terlalu lelah berbaring.

Sabtu, 07 September 2019

Apa yang Terjadi Bila Bayi Tidak Diimunisasi Sama Sekali?

Imunisasi. Salah satu ikhtiar terbaik untuk anak kenapa tidak?


Akhir-akhir ini di jagat media sosial kita sering melihat perdebatan antara kubu pro vaksin dengan kubu kontra vaksin. Kubu pro vaksin adalah pihak yang dengan rela mengikuti vaksin karena tahu apa yang akan terjadi pada anaknya apabila tidak diimunisasi. Sedangkan kubu anti vaksin adalah pihak yang dengan tegas menolak imunisasi, karena hal-hal tertentu seperti kandungan dalam vaksin yang "diharamkan" menurut kepercayaannya dan lain-lain.

Senin, 02 September 2019

Ayo Galakkan Pencegahan Stunting Demi Melindungi Generasi Bangsa!


Menuju IndonesiaSehat 2025, berarti perlu mempertimbangkan sejumlah lini pembangunan manusia. Seperti yang kita ketahui, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di level yang cukup rendah. Tahun 2015 misalnya, berada di angka 108 dari 187 negara. Meski bukan angka yang aman, kabar baiknya adalah angka tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Dengan demikian, pembangunan manusia yang bertahap, berkelanjutan untuk mencapai tujuan Indonesia Sehat 2025 bukannya tidak masuk akal.

Sabtu, 31 Agustus 2019

Ayo Perangi PNEUMONIA Bersama-sama!

Peduli pneumonia, peduli generasi penerus bangsa. (foto dokpri)

Pernah dengar Hillary Clinton mengidap satu penyakit yang menjadi isu sensitif? Isu ini pula menjadi salah satu senjata ampuh Donald Trumph untuk menyerangnya. Ternyata hasilnya cukup cespleng.  Akhirnya Trumph terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45 awal 2017 kemarin.

Hillary Clinton ternyata diduga mengidap penyakit pneumonia. Yang mengharuskannya mengkonsumsi antibiotik. Asumsi masyarakat Amerika Serikat terhadap penularan pneumonia tidak dapat disepelekan. Pneumonia masih menjadi penyakit momok di sana. Akibat kesadaran perilaku hidup sehat masyarakat yang tinggi.