Sabtu, 07 Oktober 2017

Menepis Anggapan Miring Jual Beli Darah

Undangan malam resepsi Ulang Tahun Palang Merah Indonesia ke-

Tak terasa. 26 tahun telah berlalu. Sejak pertama kali donor darah di Oktober 1991. Perjalanan yang cukup panjang tentu saja.

60 kali dondar telah dilalui. Meski yang tidak tercatat, lebih dari itu. Tapi rasa nikmat berbagi itu yang tak bisa dicatata. Kebahagiaan saat bisa berbagi darah dengan saudara yang lain. Tak pandang bulu atas suka, ras, agama, maupun asal muasal.

Yogyakarta menjadi kota bersejarah bagi saya. Sebab mengenal donor darah dari aktivitas voluntari. Andai saja tak mengenal Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI), belum tentu ngeh dengan dondar. Materi “Donor Darah”, akhirnya bisa saya rasakan pengalaman nyatanya.

Itupun tak main-main. Donor darah sukarela pertama, langsung dondar trombosit. Oleh karenanya, pengalaman pertama itu sungguh tak terlupakan. Ditambah pengalaman lain. Sebagai anak kos, mendapat suguhan mie instant plus telor dan segelas susu cokelat, sungguh luar biasa. Reward yang saat itu saya peroleh setelah sukses dondar.

Wah, dondar sukarela itu ternyata asyik juga ya. Sudah darah kita ‘dibersihkan’. Kita pun mendapat bonus. Satu hal yang memang benar-benar saya baru tahu saat itu. Wkwkwk...

Seiring waktu, penghargaan pendonor 10 kali saya peroleh di tahun 1995. Saya peroleh dari UTDC PMI Kota Yogyakarta. Selanjutnya penghargaan 25 kali, saya dapatkan di tahun 2014. Meski saat itu sudah 44 kali saya dondar. Maklumlah, baru di tahun 2012, saya mengurus kepindahan secara administrasi. Dari PMI Kota Yogyakarta ke Unit Transfusi darah (UTD) PMI Kota Mojokerto. Sehingga pengusulan ke Walikota Mojokerto tersendat.

Di tahun 2017, ternyata penghargaan 50 kali saya terima. Kali ini secara spesial, saya dan beberapa orang mewakili pendonor 50 kali. Tentu saja ada rasa bahagia menyelinap. Perhatian dari segenap pengurus PMI dan Pemkot Mojokerto cukup menghibur kami.

Di ulang Tahun PMI yang ke-72, resepsi khusus disiapkan di Pendopo Balai Kota Mojokerto. Berkenan juga Ketua PMI Kota Mojokerto yang sekaligus Walikota Mojokerto, KH. Drs. Mas’ud Yunus. Meski serangkaian kasus sedang beliau hadapi, tak menyurutkan perhatian kepada kami para relawan dondar.

Hal ini sekaligus penghargaan kepada para relawan. Tak henti-hentinya untuk mengkampanyekan donor darah sukarela secara di berbagai kesempatan. Termasuk melawan hoax atau berita palsu. Dimana di masyarakat ada anggapan bahwa kalau transfusi darah, kok harus bayar? Padahal katanya donor darah itu gratis.

Tulisan saya ini sekaligus memberikan edukasi kepada awam. Bahwa donor darah itu memang gratis. Alias tak dipungut biaya sepeser rupiahpun. Namun pengelolaan darah itu yang tidak gratis. Sebab PMI harus mandiri.


Mengapa kalau butuh darah harus bayar?

Mengolah darah itu tidak gratis loh.

Sesuai ketentuan UU Nomor 23 Tahun 1992 Bab V Pasal 33 yang menyatakan: Transfusi Darah dilarang untuk tujuan Komersial. Sangat jelas bukan? Bahwa darah yang telah disumbangkan tidak boleh diperjualbelikan.

Akan tetapi, dalam pengambilan, pengelolaan, hingga ditransfusikan kepada pasien tentu timbul biaya. Biaya itulah yang kemudian disebut Biaya Pengganti Pengelola Darah (BPPD). Biaya tersebut dipergunakan sebagai pengganti bahan habis pakai. Contohnya adalah kantong darah, reagen, serta bahan penunjang lainnya.

BPPD beradasarkan PP Nomor 7 Tahun 2011 ditetapkan dengan Keputusan Menteri atas usulan PMI dengan memperhitungkan biaya pengadaan, pengelolaan, dan penyimpanan. Sedangkan untuk Kota Mojokerto, berikut ini adalah rincian BPPD berdasarkan kepada Peraturan Walikota Mojokerto Nomor 83 tahun 2014.
  1. Darah                                                                                       (      Gratis       )
  2. Kelompok jasa admin, penyusutan dan pengembangan   (Rp. 143.582,-)
  3. Kelompok bahan dan alat habis pakai                                 (Rp. 216.418,-)
  • Kantong darah            Rp. 49.470,-
  • Gol darah, Rh, Hb       Rp.   4.138,-
  • Cross match                Rp. 25.000,-
  • HBsAg                         Rp. 18.318,-
  • Anti HCV                     Rp. 51.789,-
  • Syphilis                        Rp. 34.663,-
  • HIV                               Rp. 29,785,-
  • Bahan penunjang       Rp.   3.255,-
Total biaya BPPD adalah Rp. 360.000,- (Tiga ratus enam puluh ribu rupiah.).


Nah, cukup jelas rinciannya bukan?


Produk Darah untuk Selamatkan Nyawa Manusia

Nah, kalau dondarnya ini gratis. Dapat bonus lagi.

Sementara itu, apa saja sih jenis-jenis darah yang akan ditransfusikan? Ini untuk mengetahui bahwa darah yang disumbangkan akan diolah dalam berbagai jenis. Komponen darah diklasifikasikan menurut kebutuhan pasien, yang meliputi:
  1. Whole Blood. Produk komponen darah yang masih lengkap. Biasanya dieberikan kepada pasien dengan kasus pendarahan berat.
  2. PRC. Berisi sel darah merah dengan sedikit plasma. Pada umumnya untuk pasien anemia (kekurangan sel darah merah).
  3. Plasma Darah. Digunakan untuk pasien dengan kekurangan albumin, seperti pasien hemofili. Plasma juga digunakan untuk pasien luka bakar.
  4. Trombosit. Produk komponen darah yang bertugas dalam pembekuan darah. Kekurangan trombosit bisa berakibat pendarahan dalam. Trombosit diberikan salah satunya kepada pasien demam berdarah (dengue).
Cukup menambah wawasan kita bukan? Dondar itu asyik loh. Selain bisa jadi gaya hidup, tentu saja sekaligus berbagi kebaikan. Murah dan membahagiakan.

Saya sudah. Anda kapan?
.

1 komentar so far

nah ini nih yang masih bertanya2 kenapa masih "beli" darah meskipun dari PMI atau pendonor langsung. Karena memang ada biaya pengganti untuk memastikan darah yang didonorkan benar2 bersih, sehat dan cocok.

saya pernah donor darah, rasanya enak mas, badan jadi ringan

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon