Rabu, 25 April 2018

Anakmu, Bukan Anakku

Reptil buas ini akan 'manut' sebab telah dilatih sejak bayi. (foto pribadi)

"Bajul ae isok diatur. Lha iki arek mosok gak kenek diatur blas," setengah berbisik mas Agung, sebut saja demikian, mengarahkan pandangan ke arah saya.

"Mbuh, Mas. Ngene iki yo andile wong tuwo gede banget. Arek diumbar ae, yo ngunu iku hasile. Kene dadi tonggone sakdermo mek ngilingno. Ngunu ae kadang wong tuwane gak trimo."



Lalu kami pun sama-sama menghela nafas panjang. Saling merenungi atas apa yang telah terjadi. Anak-anak nakal yang lepas kendali. Membuat keonaran untuk menunjukkan eksistensi diri. Meski cara yang ditempuh salah besar.

Ketika nilai-nilai moral dan sosial telah tercabut, tindakan kriminal seolah biasa saja. Pembiaran oleh orang tua atau keluarga seolah menjadi pembenar. Bahwa apa yang anak-anak lakukan itu masih tindakan wajar. Keluarga yang 'sakiit', akan menghasilkan keturunan yang 'sakit' pula.

Ini seperti fenomena gunung es. Sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) tentu saya tak bisa tinggal diam. Apalagi sejak maraknya kasus kriminal di kampung saya. Mulai dari kasus pencurian ringan, narkoba, hingga curas. Pelakunya bukan saja orang dewasa. Sekelas bocah kelas 1 SD pun sudah berani melakukannya.

Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut sangat mengherankan. Namun bagi kami tetangganya, sudah tak kaget lagi. Kakak-kakaknya memiliki track record cukup meyakinkan untuk 'menularkan keterampilan' itu ke adik-adiknya. Sangat miris.

Perumpamaan hewan buas yang bisa dilatih, sebenarnya bukan menjadi pembanding yang pas. Rasa geregetanlah yang membuat kami berpikir demikian. Sebagai seorang polisi Babinkamtibmas di desa kami, tindakan Boy (saya sebut demikian) sungguh sangat meresahkan. Sebagai seorang 'alumni' LP anak, seharusnya belajar bersikap yang lebih baik. Ini malah sebaliknya.

Setahun dibina di tempat tersebut, sepertinya malah menebalkan nyalinya. Nyali untuk berbuat onar dengan skala yang lebih serius. Padahal saat di persidangan, hakim telah banyak memberi nasihat. Termasuk meminta kesediaan saya untuk membina selepas menjalankan hukuman. Orang tuanya pun mengaku sangat menyesal. Tak mampu memberi pendidikan yang baik kepada anaknya.

Ironis. Sekeluarnya dari penjara, tak ada perubahan perlakuan yang signifikan. Sibuk kerja. Demikian saat ibunya kami panggil ke rumah. Malah memasrahkan kepada kami, bagaimana sebaiknya membina Boy.

Horotoyo kunuh!

"Mas Ustadz, Njenengan nak langkung paham. Dospundi ngatur lare kados lare kula?" Dengan tatapan iba, seolah memohon kepada saya. Sementara saya hanya mampu istighfar. Diam termangu. Lalu sayapun menoleh ke arah Mas Agung.

"Begini lho, Bu. Boy itu kasusnya sudah bertumpuk-tumpuk. Baik di Polsek, Polres, bahkan di Polda. Karena ada Pak RT, sekalian ini saya sampaikan. Mungkin beliau saking sayangnya kepada Boy, meminta saya untuk memberi pembinaan dulu. Sehingga kasus pemukulan yang terakhir mohon untuk didamaikan dulu. Tapi bila sekali lagi melakukan kasus yang sama, tak segan-segan kami untuk langsung meringkusnya." Dengan wajah yang tegas Mas Agung menatap tajam ke arah Bu Alice.

"Inggih, Pak. Kula pasrah," sambil menundukkan kepala ibunya si Boy ini menyaut lirih.

Kemudian saya pun menyambung. Meminta Bu Alice untuk tidak putus asa. Sudah berani memperanakkan, masak akan 'diumbar' begitu saja saat sudah besar. Meminta agar Boy melaksanakan shalat 5 waktu untuk berjamaah. Paling tidak bisa menjadi pengingat. Bahwa hidupnya tidak hanya sekedar dibuat tidur, mabuk, dan berantem.

"Itu anakmu, Mbak. Bukan anakku. Sekeras apapun saya mendidiknya, tentu kamu yang harus lebih keras untuk melakukannya."

Kemudian kami pun terdiam.

2 komentar

Betul. Bagaimanapun orang tua yang harus tetap lebih tegas pada anaknya sendiri yaa...

Tegas atau keras. Kids zaman now seringkali mengartikan dengan 'kejam'. Jadi...

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon