Rabu, 16 Mei 2018

Di Mana Anak-anak Itu Kini Berada?

Tags

Anak-anak berlarian di depan shaf. (dok news.moslemcommunity.net)

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke masjid. Beliau tidak sendirian. Namun ditemani  oleh dua cucu kesayangan. Hasan dan Husein.

Beliau menjalankan tugas sebagai imam seperti biasanya. Menempatkan Hasan dan Husein di sampingnya. Melakukan takbiratul ihram untuk mengawali shalat. Hingga pada gerakan sujud. Di sinilah Rasulullah begitu lama dalam bersujud. Tidak seperti biasanya.


Salah seorang sahabat diam-diam sedikit mengangkat kepalanya. Ingin tahu apa yang terjadi. Mengapa Rasulullah begitu lama dalam bersujud. Sahabat tersebut sedang melihat sang cucu menaiki punggung beliau.
Setelah melihat kejadian tersebut, sang sahabatpun kembali meneruskan sujud.

Tentu saja peristiwa tersebut membuat para sahabat penasaran. Kemudian merekapun bertanya kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, Baginda sujud lama sekali. Sehingga kami sempat mengira ada sesuatu. Atau Baginda sedang menerima wahyu."

Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Tidak. Tidak. Tidak terjadi apa-apa. Hanya tadi cucuku naik ke punggungku. Dan saya tak mau terburu-buru untuk bangkit. Sampai dia turun dengan sendirinya." (HR. Nasa'i dan Hakim)

===============

Satu kisah yang begitu masyhur. Selalu berulang-ulang dikisahkan serta dituliskan. Anak-anak adalah "malaikat" yang sedang bermain di rumah Rabb-nya. Tertawa gembira. Berceloteh dengan riangnya. Berlari ke sana ke mari. Mengikuti kehendak hati.

Apalagi seperti saat ini. Di Bulan Ramadhan, sang orang tua pasti ingin anak-anaknya lebih dekat dengan masjid. Mengajak bersama keluarga yang lain untuk shalat berjamaah. Merengkuh berkah, bulan suci yang penuh ampunan.

Namun apa yang terjadi?
Seringkali anak-anak menjadi tertuduh. Membuat onar. Menganggu kekhusyukan ibadah shalat. Sungguh ironis bukan?

Sampai-sampai, ada larangan agar tak membawa anak ke masjid. Terutama anak yang masih mumayyiz. Maka tak heran, banyak masjid sepi dari kehadiran anak. Jika ada itupun, bisa dihitung dengan jari.

Padahal ada cara yang lebih bijak untuk mengingatkan. Dekati mereka. Peluk mereka. Bisikkan kata-kata yang menghibur. Tuntun dan dekatkan dengan kita. Kita minta mereka ikuti gerakan kita.

Membimbing anak ke masjid bersama ortunya. (dok ebookanak.com)

Orang tua ikut mendampingi. Tentu akan lebih lagi. Sebab anak-anak cenderung meniru sikap orang tuanya. Tapi untuk hal ini, kita tak bisa menuntut banyak.

================

Ada riwayat lain yang mengisahkan Rasulullah mempercepat shalatnya. Karena apa? Ternyata ada tangisan anak kecil. Memanggil-manggil nama ibunya yang ikut berjamaah.

Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstatinopel bernah berkata, "Bila kalian tak lagi mendengar riang tawa dan gelak bahagia anak-anak di masjid. Waspadalah! Saat itu kalian dalam bahaya."

Sungguh mulia perilaku Rasulullah. Cara mendidik anak sekaligus jamaah dalam berinteraksi di masjid. Banyak anak bertebaran di warnet, warkop, atau tempat kongkow yang lain saat shalat jamaah. Itu bukan mutlak kesalahan mereka. Kitapun ikut berperan. Sebab kita tak mau memberi sedikit ruang untuk mereka di masjid.

Semoga di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Kita bisa memetik pelajaran yang diberikan Rasulullah. Sekaligus menjadi bahan introspeksi bagi takmir masjid. Merekalah generasi penerus. Yang harus kita pelihara dan pupun sejak belia. Untuk mencintai masjid.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon