Selasa, 24 Juli 2018

Hotel Phoenix Yogyakarta: 100 Tahun Merawat Sejarah

Gender barung dan gender penerus menjadi kawan bagi mereka yg sedang bersantap pagi.

Hawa adem menyeruak. Seulas senyum ramah menyambut. Saat langkah kaki memasuki The Phoenix Yogyakarta. Ini untuk yang ke-2 kali saya ke mari. Setelah hampir 20-an tahun berselang.

Tak banyak yang berubah. Bangunan tua nan eksotik. Interior khas. Tak dijumpai di hotel bintang 5 lainnya. Satu diantara dua hotel tertua di Yogyakarta. Sangatlah pas, bila hotel ini masuk jajaran luxury brand-nya grup AccorHotels. Menjadi koleksi hotel MGalery by Sofitel pertama di Indonesia.



Hanya selemparan batu dari Tugu Yogyakarta. Hotel ini nampak begitu mencolok. Berada di sisi utara Jl. Jend. Sudirman. Dengan tampilan bangunan utama yang kuno. 'Cita rasa' Eropa dan Asia berpadu apik. Hotel yang dibangun pada tahun 1918. Pertama kali dijadikan rumah tinggal oleh sang pemilik, Kwik Djoen Eng. Seorang pedagang asal Semarang.


Sejarah Panjang


Periode 1918 sd. 1996. (dok: thephoenixyogya dot com)

Seiring berjalannya waktu, tahun 1930 terjadi resesi ekonomi. Bangunan tinggal inipun berpindah tangan. Liem Djoen Hwat menjadi sang penguasa. Kemudian menyewakan kepada seorang berkebangsaan Belanda, D.N.E. Francle. Sang penyewa menyulap menjadi sebuah hotel. "The Splendid Hotel" demikianlah namanya. Sebuah bangunan yang nampak indah dipandang memang.

Satu dekade terlewati. Hingga Jepang menduduki Indonesia (1942). Pun dengan hotel ini. Digantilah menjadi "Yamato Hotel". Sebagaimana Hotel Majapahit di Surabaya.

Kemerdekaan RI diraih pada tahun 1945. Hotelpun dikembalikan kepada pemilik sahnya, Liem Djoen Hwat. Selanjutnya berubah fungsi pada tahun 1946 hingga 1949. Hotel menjadi kediaman resmi Konsulat China.

Tahun 1951, Direktorat Perhotelan Negara dan Pariwisata (Manajemen Natour) menjadi penyewanya. Berganti nama menjadi "Hotel Merdeka". Hingga di tahun 1988, Sulaeman, cucu dari Liem Djoen Hwat mengambil alih kembali kepemilikan dari Manajemen Natour. Mengambil langkah besar dengan merenovasi dan merehabilitasi. Bangunan awal dikembalikan pada bentuk aslinya. Menambahkan bangunan baru di sisi timur dan utara dari bangunan utama.

Hotel ini kembali semarak. Keluarga Sulaeman pun melakukan swakelola. 18 Maret 1993 mengusung nama "Phoenix Heritage Hotel". Memulai operasional dengan membuka 66 kamar.

Air mancur dg hiasan patuk artistik.

Buah manis dari kerja keras dipetik. Berbagai penghargaan mulai diraih. Menjadi Best Performance of 19th Century Indische Architecture. Bangunan asli ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya di tahun 1996. Perpaduan artistik Eropa dengan bagian-bagian atraktif China dan Jawa. Raihan penghargaan juga diperoleh dari Paguyuban Pusaka Jawa (Yogyakarta Heritage Society). Dimana Hotel Phoenix konsisten menjaga bangunan asli dengan arsitektur kunonya.

Hingga capaian satu abad The Phoenix Hotel Yogyakarta di tahun 2018.

Satu dekade kemudian, kembali Phoenix berpindah tangan. Tahun 2003, Imelda Sundoro Hosea, pengusaha asal Solo mengakuisisi. Bertekad untuk menjaga warisan budaya luhur. Sekaligus menjadikannya sebagai hotel bintang 5. Menggandeng manajemen hotel internasional Accor. Inilah yang membuat hotel sempat berhenti operasional selama setahun. Renovasi besar-besaran dilakukan untuk memenuhi standar AccorHotel Internasional.

2004 beroperasi kembali dengan nama "Grand Mercure Yogyakarta". Hotel butik bintang 5. Menawarkan 144 kamar siap huni. Hingga berganti nama menjadi "The Phoenix Yogyakarta" a member of MGalery Collection di tahun 2009.

Suasana yg asri untuk pesta perkawinan atau barbeque.

Di tahun 2016, hotel ini diubah menjadi MGalery by Sofitel oleh AccorHotels. Hingga di tahun 2018, hotel ini tepat berusia 100 tahun. "Centinel Jubilee" atau perayaan se-abad kali ini membawa tema: The Story of A Greatness. Kisah Tentang Sebuah Keagungan. Dengan harapan bahwa sesuai namanya "Phoenix". Yang berarti keabadian. Hotel ini akan berupaya tetap jaya sepanjang masa.


Seabad yang Elegan

Undangan peringatan seabad The Phoenix Hotel.

Kebahagiaan merayakan seratus tahun ini juga kami rasakan. Bersama puluhan rekan Komunitas Blogger Jogja dan sahabat influencer Jogja kami hadir (22/7). Bertempat di Pandawa Meeting Room, seremonial bernuanasa khas Jawa tersaji. Tentu saja setelah diawali dengan jalan-jalan keliling hotel terlebih dahulu.


Kolam renang yang eksotik.

Manajemen hotel mengenalkan satu demi satu bagian penting. Mulai dari lobby yang merupakan bangunan asli. Hingga ke bangunan sayap timur dan utara. Paprika Restaurant yang dipenuhi tetamu. Kebanyakan turis asing yang terlihat. Lanjut ke kolam renang. Salah satu ikon penting di The Phoenix Hotel. 'Belum sah' rasanya berkunjung di sini bila belum berfoto.

Koridor dg ornamen-ornamen dinding artistik.

Jalan lintas menuju kolam renang.

Tapi sebelumnya harus melewati koridor dan hallway. Nah, sampai kemudian di pool. Banyak spot cantik untuk selfie atau welfie. Pengunjung dapat dipastikan tak akan melewatkan view cakep ini. Begitu juga dengan rombongan kami.

Ballroom foyer dengan berbagai ornamen kunonya.
Perpaduan elegan: lampu kuno dan wong kuno.

Kemudian lanjut ke MySpa dan Fitness Center. Eits, lewat Ballroom Foyer dulu ding. Ornamen khas Jawa, Bali, serta China elok berpadu. Ditingkah bangunan khas utama bercita rasa Eropa. Lantai, dinding, bahkan langit-langit tertata apik dan artistik.

2 hal yang tak terpisahkan: aroma rempah dan spa.

Sampai di MySpa, menyempatkan diri menengok fitness center. Namun bagi saya, MySpa lebih menarik. Maklumlah, jika badan letih dan pegal, tentu spa bisa jadi jujugan. Membayangkan diri sedang melakukan Exotic Aroma Massage. Ditingkah dengan Food Massage. Ahh...pasti nyaman banget. Hehehe...

Batik motif Phoenix hanya ada di The Phoenix Hotel Yogyakarta.

Pemandangan dari balkon.

Berikutnya nyambung tengok-tengok kamar. Deluxe Room di lantai 3 kami jelajah. Membuktikan cerita bahwa kamar balkoniknya asoy. Ternyata memang benar. Kamar dengan hiasan dinding yang full artistik. Ditambah pemandangan dari balkon yang memang cihuy.

Maaf, pintu masih tertutup.

Acara pokok di sini pasti asyik.

Sayangnya, kami tak sempat sambangi Executive Suite. Sebab lagi full booking. Akhirnya, kami sempatkan kongkow di The Phoenix Museum dan 1918's terrace bar.

Jalan-jalan mengenal sudut-sudut hotelpun usai. Lelah kami bersambut dengan hiburan. Cukup untuk menenteramkan jiwa yang lagi galau. Sajian seni tradisional dari Paguyuban Dimas Diajeng Jogja dan karyawan The Phoenix Hotel pun digelar.

3 tarian dan sebuah pertunjukkan wayang kulit. Meski penampilan sedikit terganggu dengan tata panggung. Tapi semuanya berjalan dengan mulus. Terutama sajian wayang kulit dari salah seorang Diajeng Jogja tahun 2017, Rizki Rahma W., S.Pd. Dalang perempuan lulusan UNY ini cukup piawai memainkan anak wayangnya. Meski hanya berdurasi 30 menit, lakon "Wahyu Cakraningrat" dibawakan cukup rampak dan apik. Tak terkesan canggung saat melakukan berbagai adegan atraktif.

Siang bergelayut awan putih di luar. Tepat jam 13.00 Wib, kamipun berpamitan. Melanjutkan langkah menuju destinasi selanjutnya. Sayapun demikian. Menggamitkan rencana. Menulis (kembali) kesan bermalam di hotel berkelas ini. Sambil tak lupa mencatat untuk reservasi:

The Phoenix Hotel Yogyakarta

Jl, Jend. Sudirman No. 9 Yogyakarta - 55233
Tel. +62 (0)274 566 617 / Fax. +62 (0)274 566 856
info@thephoenixyogya.com
thephoenixyogya.com





2 komentar

ternyata perjalanan panjang dari hotel phoenic yogyakarta, perpindahan kepemilikan, renovasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya hingga diperbaharui menjadi hotel berbintang 5

Benar sekali, mas.
Seabad bukanlah waktu yang pendek.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon