Senin, 04 Juni 2018

Terdepan Tak Harus Pertama

Tags

Edmund Hillary (kiri) dan Tenzing Norgay (kanan). dok: nationalgeograhic

Siapa sih yang tak tahu Gunung Everest? Salah satu gunung tertinggi di Pegunungan Himalaya. Dimana sejarah mencatat. Bahwa pada tahun 1953, untuk pertama kali puncaknya dijamah. Puncak dengan ketinggian 8.824 meter. Sat titik tertinggi di permukaan bumi.

Edmund Hillary (belum bergelar 'Sir'), pendaki dari New Zealand telah dicatat sejarah. 29 Mei 1953 jam 11.30 menjadi begitu penting. Sebab sejak 1920-an, ratusan pendaki telah mencoba untuk 'menaklukkannya'. Puncak dengan selimut salju abadi tersebut juga telah menelan puluhan nyawa. Hal tersebut akhirnya menjadi inspirasi untuk pendakian-pendakian selanjutnya.

Tak heran, Ratu Elizabeth II dari Inggris pun ikut kesengsem. Akhirnya memberi gelar kebangsawanan "Sir" untuk Edmund Hillary. Dapat dimaklumi. Kondisi pasca perang dunia II, bukanlah kondisi ideal untuk mencapai kesuksesan itu. Oh ya, saat itu sang ratu juga baru saja naik tahta. Menjadi salah satu pesohor nomor wahid di dunia saat itu.

Nah, dibalik kisah sukses Sir Edmund. Ada seorang luar biasa yang bersamanya. Seorang sherpa, yang bagi sebagian orang dipandang sebelah mata. 'Pemandu' bagi para pendaki untuk mencapai puncak. Padahal di tangan merekalah pendakian bisa berjalan sukses. Atau sebaliknya. Lalu siapakah siapakah sang sherpa tersebut?

Di saat semua media mengarahkan wajah ke sang pendaki. Hanya seorang pewarta yang tertarik untuk mewawancarai sang sherpa. Dan sebagaimana telah viral di berbagai media. Kutipan wawancara yang begitu isnpiratif. Menjadi catatan penting bagi kita. Bagaimana sikap kita untuk menghargai kawan sepenanggungan.

Lihatlah senyum mereka! Penuh ketulusan. dok: theengineer

Jarak 12 meter menjadi pertaruhan. Siapakah yang menjadi 'penakluk' pertama Puncak Everest. Pemilik 12 meter itu adalah Tengzin. Namun dengan sikap hormatnya. Dia serahkan kepada Edmund. Bukan karena apa-apa. Sebab dia hanyalah: penunjuk jalan.

Dia tak membutuhkan pengakuan sebagai yang pertama. Tujuannya hanyalah mengantarkan Edmund Hillary agar meraih  mimpi dan cita-citanya. Sebagaimana ungkapan pepatah:

Untuk menjadi pemenang. Sudah seharusnya ada yang bertepuk-tangan untuk merayakannya.

Tengzin Norway-lah yang memberikan tepuk tangan itu. Tengzin pula yang memberi pelajaran kepada kita. Menjadi berharga tak selalu harus menjadi yang pertama. Mengantarkan seseorang untuk menjadi yang pertama pun adalah tugas mulia. Dimana tak semua orang mampu melakukannya.

Menempatkan diri. Menjadi salah satu kunci yang amat penting. Bagaimana dalam sebuah tim kita memposisikan diri. Seni berbagi peran telah ditunjukkan dengan baik oleh Tengzin. Demikian juga oleh Edmund Hillary. Memuji kecerdasan dan keberanian Tengzin untuk memilih jalan yang tak biasa.

Sikap menghargai dan menghormati. Komitmen dan kerja keras. Menjalankan tupoksi sesuai peran masing-masing. Nilai-nilai yang sudah seharusnya kita miliki. Saat bekerja bersama tim.


Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon