Senin, 02 September 2019

Ayo Galakkan Pencegahan Stunting Demi Melindungi Generasi Bangsa!


Menuju IndonesiaSehat 2025, berarti perlu mempertimbangkan sejumlah lini pembangunan manusia. Seperti yang kita ketahui, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di level yang cukup rendah. Tahun 2015 misalnya, berada di angka 108 dari 187 negara. Meski bukan angka yang aman, kabar baiknya adalah angka tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Dengan demikian, pembangunan manusia yang bertahap, berkelanjutan untuk mencapai tujuan Indonesia Sehat 2025 bukannya tidak masuk akal.

Tentu saja, ada banyak hal yang saling berkaitan dan bersinergi, serta perlu diperhatikan dalam proses tersebut. Ada banyak pihak yang terlibat dengan kerja lintas sektoral. Urusan pangan atau ketersediaan pangan misalnya. Di tingkat daerah berada di bawah tupoksi Dinas Ketahanan Pangan dan beberapa instansi lainnya. Air, sanitasi dan sebagainya biasanya merupakan tupoksi dari Dinas Pertanian. Sedangkan bidang kesehatan secara menyeluruh merupakan tupoksi Dinas Kesehatan dan hal-hal lain yang berada di bawah tanggung jawab dinas instansi lainnya. Di tingkat daerah, semua dinas instansi tersebut harus bekerjasama untuk mewujudkan harapan pemerintah menuju Indonesia Sehat 2025 tersebut.

Vaksin untuk campak, rubela, difteri yang sedang digalakkan akhir-akhir ini misalnya juga menjadi bagian dari perencanaan tersebut. Apalagi, beberapa penyakit tersebut merupakan penyakit berbahaya yang sangat riskan untuk menyebabkan kematian. Untuk itulah, vaksin terhadap penyakit tersebut tengah digalakkan akhir-akhir ini.

Masih banyak hal yang perlu dikuatkan untuk melawan hal-hal tersebut. Misalnya penikahan dini yang angkanya masih cukup besar, bahkan di usia produktif untuk belajar. Hal tersebut, selain menjadikan IPM Indonesia terus tergerus, juga memungkinkan beberapa resiko seperti kematian ibu dan bayi, serta beberapa hal lainnya yang juga berbahaya.
Ada satu lagi, yakni stunting. 

Nah, apa itu stunting? Berikut akan dijelaskan secara ringkas dan jelas.


Apa Itu Stunting?


1000 hari pertama periode emas anak sejak janin hingga anak berusia 2 tahun.

100 hari pertama  periode emas anak sangatlah penting. Dimulai saat janin mulai tumbuh hingga dilahirkan (270 hari). 730 hari berikutnya adalah usia 0 hingga 2 tahun. Pada masa tersebut, nutrisi mempunyai peran yang pokok. Nutrisi yang diterima janin dalam kandungan. Berikutnya adalah ASI yang berkualitas. Dampaknya akan terlihat sampai anak memasuki usia dewasa.

Kegagalan atau ketidakberhasilan pemberian nutrisi akan mempunyai efek yang luar biasa. Dampak yang paling terlihat adalah stunting. Satu hal yang selama ini tidak begitu dihiraukan oleh para orangtua yang berpendidikan rendah. Bisa juga terjadi kepada orangtua yang karena kesibukannya, kurang memperhatikan nutrisi sang janin/bayi.

Stunting sendiri adalah masalah gizi kronis pada anak. Biasanya, disebabkan oleh anak yang tidak mendapatkan asupan gizi dalam waktu yang lama. Atau, makanan yang dikonsumsi oleh anak tersebut tidak mencukupi nutrisi tubuhnya. Bila hal tersebut terjadi dalam waktu lama, maka dampak dari stunting tersebut sudah terlihat bahkan ketika anak tersebut masih ada dalam kandungan, loh.


Pemantauan secara berkala salah satunya adalah dengan menimbang bayi/balita.

Anak yang menderita stunting memiliki proporsi tubuh yang lebih kecil, atau tubuh yang lebih pendek. Berat tubuh juga lebih ringan dan pertumbuhan tulangnya lebih lambat.
Sayangnya, dari data yang diperoleh dari Kemenkes misalnya, persentase stunting di Indonesia masih cenderung besar. Bahkan, mencapai angka 37,2% yang merujuk ke standar yang ditetapkan WHO, organisasi kesehatan di bawah PBB, angka tersebut masih sangat berbahaya. Bayangkan saja, hampir 40 persen generasi penerus masa depan Indonesia akan mengalami penurunan kualitas, baik tubuh maupun hal lainnya?


Apa Bahaya Stunting untuk Negara?

Perlu disadari bahwa generasi muda saat ini, terutama yang bukan tenaga medis, tidak banyak yang mengetahui istilah stunting tersebut. Namun, dengan banyaknya bahasan tentang stunting, hasilnya adalah stunting menjadi begitu viral akhir-akhir ini.

Karena ketidaktahuan itulah, stunting dianggap tidak berbahaya atau setidaknya tidak seberbahaya penyakit semacam rubela, campak, cacar air, polio dan sebagainya yang memiliki vaksin sendiri. Selanjutnya, stunting juga digunakan oleh kementerian lain untuk kampanye nasional menuju Indonesia sehat. Sebab, seperti yang dijelaskan sebelumnya, untuk menangani stunting, perlu kerjasama lintas sektoral.

Kementerian Kominfo misalnya, mengampanyekan penanganan stunting untuk menuju komunikasi yang lebih fokus dan integratif dalam memajukan bangsa. Tentunya, akan banyak yang kebingungan dengan apa itu stunting, dan bahkan banyak yang mengira bahwa stunting bukan istilah dari kesehatan dan tidak begitu berbahaya.

Padahal stunting bisa membahayakan masa depan bangsa, loh. Dengan angka stunting yang masih nyaris mencapai 40 persen tersebut, berarti ada lebih dari sepertiga anak yang lahir di Indonesia memiliki kecerdasan dan mentalitas yang jauh lebih rendah. Bagaimana ingin bersaing dengan bangsa lain, bila bersaing dengan teman sebangkunya saja akan kesulitan. Padahal kurikulum pendidikan sekarang sudah sangat padat dengan mata pelajaran selama satu minggu, belum ditambah kegiatan ekstrakurikuler.

Apa akibatnya, tentu akan meningkatkan jumlah pengangguran yang langsung berhubungan dengan angka kemiskinan. Karena sulit bersaing sejak di bangku sekolah, tentu si anak juga akan tambah kesulitan bersaing di dunia kerja. Hasilnya angka pengangguran terus-terusan bertambah, dan angka kemiskinan akan terus melejit. Hanya ada satu cara, hentikan stunting sejak awal. Pencegahan stunting sejak dini harus menjadi salah satu prioritas beberapa pihak yang memiliki kompetensi.


Mencegah Stunting

Penyebab terjadinya stunting adalah kurang gizi sejak dalam kandungan. Tapi tidak hanya itu, ada juga ketidakseimbangan hormon, misalnya karena stres atau hal lainnya. Beberapa kasus stunting misalnya disebabkan karena anak tersebut sudah terserang infeksi saat masih berusia sangat dini.

Stunting dianggap masalah yang sangat serius bagi masa depan bangsa, karena langsung berhubungan dengan kualitas generasi masa depan bangsa. Bayangkan saja, tidak hanya tubuh anak yang akan kurang maksimal tumbuhnya, tapi juga perkembangan otak dan mental. Selanjutnya, anak tersebut juga lebih mudah terserang penyakit. Lebih buruknya, stunting juga bersifat menurun, atau degenerative. Oh, my God!

Apalagi, bila ibu sang anak tersebut tidak menjaga nutrisi bayi ketika mengandung. Setelah si anak kemungkinan terkena stunting karena sifatnya yang degeneratif, berlanjut pula dengan asupan nutrisi yang kurang ketika mengandung. Tambah besar kemungkinan si anak menderita stunting.



Posyandu mempunyai peranan penting dalam mendeteksi secara dini ada atau tidaknya bayi/balita stunting di wilayah kerjanya. Sebab para kader Posyandu yang telah dilatih oleh pihak terkait dapat memberikan info secara berkala. Minimal satu bulan sekali mereka melaksanakan kegiatan penimbangan. Selanjutnya data perkembangan yang dirangkum dalam Register KIA Posyandu dilaporkan kepada Puskesmas sebagai pembinanya.

Melihat tingkat keberbahayaan stunting yang berpengaruh pada kualitas generasi penerus bangsa, yang tentunya terkait pula dengan masa depan bangsa, maka stunting tentu harus dihentikan. Upaya pencegahan stunting dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya adalah:

1. Asupan gizi sejak dalam kandungan


Ini yang perlu dijaga bersama, terutama oleh kedua orang tuanya. Asupan gizi yang seimbang dan penuh, atau cukup perlu diperhatikan. Pastikan juga kesehatan ibu bayi, juga jangan sampai mengonsumsi alkohol, atau terlalu lelah sehingga menderita anemia, atau masalah lainnya yang juga berbahaya bagi anak Anda.
Terpenting, rutin periksa kesehatan ibu dan bayi selama masa kehamilan sampai kelahiran.

2. Pasca kelahiran, berikan ASI dan Vaksin


ASI eksklusif dan memberi ASI hingga anak berusia 2 tahun.

Pasca anak Anda telah lahir, maka selanjutnya berikan Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif yang seimbang. Sampai akhirnya anak sudah diberi makanan pendamping ASI (MPASI), berikan ASI dalam jumlah yang cukup dan pas, tidak terlalu berlebihan, juga tidak kurang.

3. Lindungi anak dari sakit infeksi berulang

Hal ini bisa dengan cara menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi. Ada banyak hal yang bisa menyerang anak bila sanitasi buruk, misalnya penyakit seperti cacingan, tipes dan sebagainya. Tentunya, bila menyerang anak usia dini, bisa menyebabkan stunting. Pastikan sanitasi Anda lebih baik dan tidak menyebabkan berkembangnya berbagai penyakit.


Nah, cukup paham dengan apa itu stunting, bahaya serta cara mengantisipasinya, bukan? Dengan demikian, Anda pun bisa melindungi masa depan Indonesia menjadi lebih baik. Serta siap bersaing dengan bangsa lain. Yuk, bantu upaya pencegahan stunting! Demi melindungi generasi negeri ini di masa yang akan datang. 


Kalau tidak kita, mau siapa lagi?



==========================

1. Artikel 100% unique.
2. Semua foto adalah koleksi pribadi.


Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon