Kamis, 20 September 2018

Bergaya Hidup Dan #AksiSehatCeria Dengan Donor Darah




Suatu malam di bulan Oktober 1991. Kota Yogyakarta diguyur hujan sejak pagi. Pun demikian juga  di salah satu sudut kota. Markas komando PMI Kota Yogyakarta Kota Baru. Suasana cukup hening dan atis.
Saya dan beberapa teman terbawa suasana. Dingin dan kantuk mulai melanda. Yups, saat itu kami tengah piket magang. Salah satu prosedur yang harus kami lalui. Sebelum menjadi anggota Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI).

Shift III. Menjadi giliran yang paling ‘tidak seru’. Sebab seringkali kejadian tak biasa kami hadapi. Mulai yang paling ringan. Evakuasi pasien kecelakaan ke rumah sakit. Hingga yang paling ngeri. Evakuasi jenazah korban laka berat. Atau evakuasi jenazah korban bunuh diri yang sudah membusuk.

Keren tidak?

Kejadian terakhir terjadi malam itu. Sebuah kecelakaan berat terjadi di Jl. Gejayan. Dua orang pemabuk tertabrak mobil. Kamipun harus mengevakuasi ke rumah sakit terdekat. Saat itu, pasien dibawa menuju rumah sakit Panti Rapih.

Setelah beres, unit ambulans kami segera balik ke mako Kota Baru. Tapi tak lebih dari 10 menit, beberapa senior mendatangi kami. Pasien laka membutuhkan pendonor darah. Sebab harus segera dilakukan tindakan operasi besar.

Saat itu, kami berlima. Setelah sedikit meminta informasi. 2 orang diantara kami bersedia. Kebetulan kami berdua bergolongan darah O. Meski ceking, ternyata bobot kami hampir mendekati 60 kg.

Oh ya, kami harus transfusi trombosit kala itu. Pendonor biasa hanya diambil 350 cc darahnya dalam satu kantong. Tidak demikian dengan pendonor trombosit. Kami harus diambiil 450 cc.

Saya berdoa. Semoga bisa diambil. Sebab inilah pengalaman pertama kali saya donor darah. Langsung untuk memenuhi permintaan donor trombosit lagi.

Unit Transfusi Darah (UTD) PMI berada di bagian depan markas. Lalu kamipun segera menjalani serangkaian proses pemeriksaan. Tataa...alhamdulillah, saya dinyatakan lolos. Sementara kawan saya tidak bisa. Sebab kadar hemoglobin (Hb) terlalu rendah.

Satu hal yang paling saya ingat Ternyata sayatan pada ujung jari saat pemeriksaan Hb, adalah hal yang paling ‘menakutkan’ bagi saya. Sampai saat ini tentu saja. Meski teknologi sayatan untuk mengambil darah sudah lama tidak dipakai.

Terkesan lucu memang. Sampai ada petugas yang pernah bertanya, “Mas. Jarum untuk ngambil (darah) kan gede. Kok malah takutnya sama tes Hb. Yang gedenya tak sampai sepersepuluhnya?”
Hahaha....

Nah, itu adalah perkenalan pertama saya dengan donor darah. Hingga di tahun 2018, menjadi pendonor darah sukarela telah menjadi gaya hidup. Seolah ada alarm pengingat saat jadwal donor darah dilakukan. Respons tubuh yang ‘tidak nyaman’ menjadi salah satu sinyalnya.


Seni Donor Darah

Datangi Markas PMI setempat untuk mendaftar sebagai pendonor darah sukarela.

Pengalaman 70-an kali (68 kali tercatat) donor darah begitu luar biasa. Kalau saya bilang ke para pendonor atau calon pendonor, “Donor darah, selain bisa menjadi gaya hidup. Ternyata ada seninya juga.”

Loh kok?

Pencatatan untuk mengetahui jadwal dondar berikutnya.

Benar. Donor darah membuat Anda tahu seni mengenal diri sendiri. Gratis lagi. Mau  bukti?Dengan donor darah akan tahu bahwa Anda:
  1. Sedang fit atau tidak.
  2. Sedang sakit atau tidak.
  3. Terkena penyakit berbahaya menular atau tidak.
  4. Menjadi bagian kecil kemlompok manusia yang peduli dengan nyawa orang lain.

Anda akan tahu fit atau tidak atau sedang sakit atau tidak. Sebab untuk menjadi pendonor darah sukarela, Anda harus memenuhi syarat:
  1. Sehat jasmani dan rohani.
  2. Usia minimal 17 tahun – tak berbatas usia. (Sesuai pertimbangan medis dari dokter PMI)
  3. Berat badan minimal 48 kg.
  4. Tekanan darah: 100/70 – 160/100 mm.Hg.
  5. Kadar sel darah (Hemoglobin/Hb): 12,5 – 17.00 gr/dl.
  6. Tidak mengkonsumsi obat (3 x 24 jam).
  7. Minimal 1 tahun sehabis operasi bius total, 6 bulan bius lokal, atau 1 minggu cabut gigi.
  8. Minimal 6 bulan setelah dari luar negeri.
  9. Tidak sedang hamil dan menyusui.
  10. Untuk menstruasi, bisa mendonorkan darah setelah hari ke-4 (dengan kadar Hb: 13,5 gr/dl.)
  11. Tidak sehabis imunisasi/vaksin.
  12. Minimal 1 tahun setelah tindik, tatto, bekam/akupuntur.

1    Kesemua persyaratan di atas, akan diuji/diperiksa terlebih dahulu oleh dokter atau petugas berwenang.

Oleh karena itu perlu diperhatikan. Jangan donor darah bila Anda:
  1.     Homo seksual/lesbian.
  2.     Pola hidup seks bebas.
  3.     Riwayat penyakit jantung.
  4.     Pecandu alkohol dan obat psikotropika.
  5.     Memiliki resiko tinggi penyakit seks menular.
  6.     Tidak diperbolehkan donor oleh dokter.

Jikapun Anda memaksa, maka hasil darah Anda dapat dipastikan tak dapat lolos. Alias mubazir. Sebab proses pemeriksaan/uji laboratorium saat ini sangat teliti. Ini bisa kita lihat dari manfaat dari donor darah.


Donor Darah Menjadi Gaya Hidup

UTD atau UDD (Unit Donor Darah di RS) yg biasanya memiliki ruangan khusus.

Sebagaimana pengalaman saya di atas. Donor darah akhirnya menjadi salah satu gaya hidup yang saya jalani. Gaya hidup sehat tentu saja. Paling tidak selama 2,5 - 3 bulan sekali kita bisa tahu kondisi kesehatan kita. Bandingkan saja jika harus check-up rutin.

Kita bisa memperoleh banyak manfaat dari donor darah. Kesemuanya itu tak memerlukan biaya, alias gratis. Sedikit untuk diketahui. Untuk cek empat (4) macam penyakit saja, minimal kita harus keluarkan biaya 200 ribu rupiah. Itu hanya untuk bahan habis pakainya saja loh. Rinciannya bisa lihat di sini.

Waktunya pun, Anda cukup sediakan antara 20 - 30 menit saja untuk proses donor darah. Sebagaimana yang biasa saya lakukan juga. Nih, kalau ingin tahu apa saja yang harus dilakukan saat proses tersebut dilakukan.

Langkah ke-1: pendaftaran sekaligus pengisian IC.

Langkah ke-2: pemeriksaan kesehatan oleh petugas khusus.

Langkah ke-3: cek Hb, biasanya banyak yg gagal di sini.

Langkah ke-4: mencuci lengan yg akan diambil darahnya.

Langkah ke-5: donor yg membutuhkan waktu 8 - 15 menit.

Langkah ke-6: Anda berhak mendapatkan menu bonus.

Cukup simpel bukan?

Pengalaman banyak calon pendonor. Pada kesempatan pertama biasanya mereka gagal. Hal tersebut biasanya mereka 'tidak menyiapkan diri' dengan benar. Dua (2) hal yang kelihatannya sepele, namun cukup berpengaruh:
  1. Tidur minimal 6 jam sebelum donor. Dengan kata lain, istirahatlah yang cukup!
  2. Makan minimal 2 jam sebelum menyumbangkan darah.
Sementara itu, manfaat donor darah cukuplah banyak. Diantaranya adalah:

1. Cek kesehatan gratis.
     - Cek tekanan darah dan resiko anemia.
     - Cek golongan darah (jika Anda belum tahu golongan darah sebelumnya).
     - Cek 4 jenis penyakit berbahaya menular (Hepatitis B dan C, Sifilis, dan HIV).
2. Membuat tubuh lebih sehat.
    Memperlancar sistem sirkulasi darah. 
    Sehingga dapat meminimalkan resiko penyakit          jantung dan stroke.
3. Fasilitas donor darah:
  • Keringanan biaya BPPD saat pendonor dan keluarga inti pendonor membutuhkan darah untuk pendonor dan keluarga inti.
  • Piagam penghargaan (10, 25, 50, 75, dan 100 kali).
  • Menyelamatkan nyawa.
  • Darah yang disumbangkan akan diberikan kepada pasien transfusi darah. Jika tak mendapatkan transfusi darah, resiko medisnya adalah kematian

Anda dapat mengulik secara detil manfaat dondar. Tentang seputar tips gaya hidup sehat juga  di laman Doktersehat. Pertanyaan seputar tema-tema kesehatan juga bisa Anda tanyakan di situ. Sehingga tidak ada alasan lagi Anda ketinggalan informasi tentang kesehatan.

Oh ya, untuk tambahan informasi nih. Menurut data WHO pada tahun 2016, jumlah pendonor darah sukarela dunia hanya 107 juta orang. Padahal jumlah penduduk bumi lebih dari 7 milyar. Di Indonesia sendiri, baru menurut LIPI yang dirilis melalui ISJD (Indonesian Scientific Journal Database) masih sangat rendah. Yaitu 0,6% dari jumlah penduduk. Padahal target WHO adalah minimal 2% dari jumlah penduduk. Itu setara dengan 4 juta kantong darah selama setahun. 

Sementara itu, rilis dari Kementerian Kesehatan RI dibutuhkan 5,1 kantong darah per tahun. Defisit yang cukup tinggi ternyata. Tentu ini tidak begitu menggemberikan bukan? Tugas kita sebagai warga negara agar rilis-rilis di tahun berikutnya menjadi menggembirakan.

Ingat! Donor darah adalah salah satu gaya hidup sehat yang murah, meriah, dan bermanfaat untuk menyelamatkan sesama telah saya lakukan. #AksiSehatCeria yang bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan sampai usia berapa saja. Saya sudah. Terus Anda kapan?




==========================

1. Artikel 100% unique.
2. Artikel ini diikutkan dalam Lomba Blog #AksiSehatCeria.


3 komentar

Salam kenal. Pengalaman donor darahnya luar biasa sekali ya. Saya aja baru pertama donor darah. Tapi memang banyak manfaatnya untuk tubuh... Jadi pengen donor lagi

Salam kenal juga, Mas Hendra.
InsyaAllah dengan menjadi pendonor sukarela, akan jadi ketagihan deh. Selamat Anda berhasil juga melewati pengalaman pertama.

Wah banyak sekali manfaatnya ya, terutama karena bisa membantu orang yang sedang membutuhkanya

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon