Sabtu, 22 Desember 2018

Belajar Content Creator Bersama Sahabat Keluarga


Suasana jelang pembukaan workshop. (Foto pribadi)
Terima kasih Mak Injul dan Mak Mir. Lewat undanganmu. Membawa diri ini dua malam (17 sd 20/12) berada di Hotel Jayakarta Yogyakarta. Berkumpul dengan emak-emak dan bapak-bapak bloger. Berbagi ilmu. Berbagi pengalaman. Berbagi cerita. Berbagi hahahhihi bersama.


Tak lupa sang tuan rumah. Sahabat Keluarga, Direktorat Pembinaan Keluarga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Yang telah memberikan ruang kepada kami. Mengenal lebih dekat ‘dapur’ portal Sahabat Keluarga.

Keren. Hanya satu kata yang bisa saya ungkapkan. Selama tiga hari mendapat ‘suntikan energi’. Sedikit tahu. Apa saja yang dilakukan jajaran Direktorat Pendikel. Bagaimana para pelaksana lapangan berjibaku. Agar pendidikan keluarga mampu diterjemahkan secara utuh di masyarakat.

Meski hal tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab dibutuhkan kerjasama lintas sektoral. Sebagaimana pengalaman yang disampaikan oleh para peserta. 41 delegasi kab./kota dari 21 provinsi. Mengikuti Workshop Evaluasi Program Pendidikan Keluarga Tahun 2018. Pun demikian dengan kami. 30 orang bloger DIY dan Jateng. Berkolaborasi menyukseskan kegiatan tersebut. Meski tema kegiatan yang diambil berbeda.


Hari Pertama (Pembukaan)

Bertempat di Ruang Rama Sinta, acara pembukaan dilaksanakan. Sesuai rencana, pembukaan akan dilaksanakan pada jam 17.00 wib. Namun akhirnya harus mundur. Sebab Direktur Pendikel, Dr. Sukiman, mengalami penundaan keberangkatan pesawat.

Untuk mengisi waktu, diadakan acara sambung rasa. Pengalaman pengelolaan program pendidikan keluarga dari beberapa utusan. Utusan Kab. Sleman, Kab. Kebumen, Kota Yogyakarta, serta dari DKI Jakarta menyampaikan uraian singkat.

Ada beberapa hal yang patut untuk diapresiasi. Sekaligus beberapa hal untuk menjadi perbaikan. Sebagaimana cerita Pak Eko dari Diknas Kab. Sleman. Meski baru dirilis tahun 2014, Pendidikan Keluarga mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Pemberlakuan jam belajar masyarakat, menjadi salah satu program unggulan.

Demikian juga di Kota Yogyakarta. Dukungan penuh Gubernur DIY dan walikota menjadi pemicunya. Meski cukup sulit. Beransur-angsur masyarakatpun merasakan manfaatnya. Keterlibatan penuh orangtua menjadi salah satu kunci.

Hal ini juga disampaikan oleh Dr. Sukiman, M.Pd. di dalam sambutannya. Kolaborasi dengan pengelola PAUD, sekolah dan kelompok masyarakat harus selalu ditingkatkan. Cakupan kerja yang begitu luas. Tak mungkin dapat dikerjakan secara mandiri.

Pria asli Purworejo yang dilantik pada 2015 ini menutup dengan subuah harapan. Bahwa setiap pekerjaan yang direncanakan dengan baik, akan memperoleh hasil yang baik pula. Dan tepat jam 22.20 wib., workshop secara resmi dibuka.


Hari  Ke-dua (How To Write Essay)

Alhamdulillah. Membuka pagi dengan sholat Subuh. Meski tak ada teman untuk berjamaah. Suasana lengang. Apalagi di dalam musola lantai dasar. Sementara di luar. Gerimis tipis mengundang.

Artis ibu kota blusukan di Pasar Prambanan. (Foto pribadi)

Bergegas menuju halte Trans Jogja. Pasar Prambanan menjadi tujuan. Tugas rumah dadakan. Belanja sayur, buah, dan daging ayam pesanan. Bus pertama menjadi tumpangan. Ada sekitar belasan orang di dalam. Mayoritas emak-emak bakulan. Dan seorang lelaki di belakangku. Sedang asyik bercengkerama dengan mimpi.
Ah, Yogya. Inilah yang selalu membuat aku suka. Hidup tak hanya menyajikan satu warna. Tak ada sedetik pun waktu tersia. Semua bisa menjadi cerita.

Seperti Rabu pagi itu (19/12). Mak Pon, Mbak Mira Sahid woro-woro di grup wa. Peserta Workshop Content Creator diajak senam pagi dulu. Maklumlah, hari ini akan dipenuhi aktivitas dalam dan luar kelas. Menyiapkan raga dengan baik akan menjadi bekalnya. Bahasa gaulnya: men sana in corpore sano. Gitu nya’? Hehehe...

Tapi sayang. Untuk kali ini saya absen dulu. Sebab sudah berjibaku. Diantara tumpukan daun ketela, kangkung, serta kacang panjang. Bolehlah besok saya akan gabung. Demikian pikir saya.

Gol A Gong bukan mentor biasa. (Foto pribadi)

Singkat cerita, sarapan telah usai. Langsung memasuki Ruang Wibisono. Terlihat beberapa rekan. Sementara di depan, sosok gondrong bersarung dan bertopi menarik perhatian. Wah, Kang Gol A Gong sudah siap beraksi nih. Akan menyampaikan materi ‘How to Write Essay’.

Ternyata masih belum dimulai. Meski waktu sudah menunjukkan jam 08.15 wib. Ada sedikit gangguan teknis dengan LCD proyektor. Setelah beberapa saat, kelar juga akhirnya.

Sebuah nama yang aneh. Namun cukup akrab dengan saya. Sebab saya adalah pembaca setia majalah ‘Hai’. Majalah remaja yang moncer di zamannya. Era 80 dan awal 90-an.

Maka beruntunglah saya. Mengenal beliau dengan lebih dekat. Apalagi dapat ngangsuh kaweruh secara langsung. Mengenal Heri Hendrayana Harris dengan segala kelebihannya.

Betapa cacat fisik bukan menjadi penghalang. Justeru menjadi pemacu untuk menantang dunia. Membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin. Bila semuanya dilakukan dengan bersungguh-sungguh.

Membaca dan berolah raga. Dua aktivitas yang selalu ditekankan oleh ayah beliau. Dijadikan kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan. Meski lengan tangan bawah harus diamputasi. Akibat ‘salah rawat’ pasca jatuh dari pohon.

Terbukti di kemudian hari. Membaca telah membawa Gol A Gong menyusuri 20 negara. Pun ratusan kota yang disinggahi di bumi Nusantara. Pun dengan membaca. Mengajak ribuan anak muda menjadi penerang dunia.

Olah raga, mengantarkannya menjadi atlet paralimpik nasional. Bertanding dan menjadi juara di tingkat Asia. Orangtua hebat. Menggembleng anaknya untuk selalu dekat dengan Tuhan-nya. Sangat inspiratif bukan?

Materi “Membuat Esai” pun lebih mengena. Pas di jantung. Demikian lebih tepatnya. Tak banyak teori yang diberikan. Namun ada satu garis besar. Membuat saya jadi mangut-manggut.

Esai bisa berbentuk opini, feature, atau fiksi. Tinggal dari sudut mana kita melihatnya. 5 W dan 1 H bisa diolah jadi apa saja. Jurnalis yang beresai, bisa menghasilkan tulisan apa saja. Berita, opini, feature, bahkan kisah fiksi.

Adegan materi beralih ke permainan. Dimana 30 orang dibagi menjadi enam kelompok. Kelompok ini adalah gambaran sebuah keluarga fiksi. Anggota keluarga terdiri dari: bapak, ibu, anak, pembantu, dan sopir.

Kemudian bapak sebagai kepala keluarga maju. Mengenalkan masing-masing keluarga dengan caranya. Eh, sesi perkenalan ini cukup menguras tawa juga ternyata. Beruntung, Keluarga Sosro Kartono menjadi juaranya. Sebuah novel menjadi hadiahnya.

Belum berhenti. Lanjut dengan permainan pesan berantai. 6 untaian kalimat harus diteruskan kepada anggota keluarga terakhir. Keluarga terakhir yang dibisiki harus bisa menuliskan kembali dengan tepat. Kembali keluarga Sosro Kartono beruntung. Hadiah novel menjadi bunga keberuntungannya.



Oh ya ding. Saya juga dapat hadiah novel. Mampu menjawab di tantangan pertama. Ketika tulisan berwarna biru, harus saya ucapkan merah. Tentu saya tak mau dong! Kan tulisannya memang berwarna biru. Hihihi...

Sesi berikutnya, kami diberi tantangan. Membuat beberapa paragraf opini. Hanya dalam waktu 15 menit. Ceritanya, teori langsung praktik nih.

Alhamdulillah, lima paragraf selasai saya tulis. Saat yang tercepat diminta maju, sayapun maju.  Eh, langsung ada tujuh orang. Menjadi satu-satunya cowok yang maju itu sesuatu. Hahaha...

Kemudian satu per satu diminta untuk membaca. Saya lolos ke dua besar. Bersama Mbak Hairul, kami menjadi role model. Tulisan maksudnya. Sayang, untuk tahap ini tulisan saja tidak dipilih oleh pimred. Sebab artikel saya kurang kekinian.

Opini Mbak Hairul lebih maknyus. Pengalaman antre mengurus administrasi Kejar Paket. Bagaimana lelah dan penat dirasa. Saat berhadapan dengan birokrasi. Yang memang seharusnya segera berbenah. Sebab mereka digaji memang untuk melayani. Bukan untuk mempersulit pelayanan.

Sebuah novel “Balada Si Roy: Joe’ pun, masuk di genggaman. Novel yang akan difilmkan di tahun 2019 nanti. Hadiah yang keren dari penulisnya.

Tak terasa. Waktu istirahat pun tiba. Sebelum istirahat, kami masih juga diberi tantangan. Keluarga fiksi diminta untuk eksplorasi ke Transmart. Kebetulan posisinya amat dekat. Cuma selemparan batu di seberang Hotel Jayakarta.

Lepas istirahat. Kami pun masuk kembali ke ruang Wibisono. Kang Gol A Gong ‘menagih’ hasil. Bergantian kami menyampaikan hasil pandangan mata. Kemudian beliau mereview satu demi satu. Mengarahkan laporan tersebut untuk menjadi sebuah karya tulis.

Tepat jam 15.00 wib sesi ‘Menulis Esai’ rampung. Otak sayapun ‘pyar’. Pecah. Referensi berharga menjadi vitamin untuk semakin semangat menulis. Tak salah memang Sahabat Keluarga menjadikan beliau sebagi nara sumber. Pas.

Judul: Kau mendekat, ku menjauh. Hahaha... (Foto pribadi)

Memasuki materi ke-dua, kami ‘digiring’ menuju Tebing Breksi. Sebuah wisata alam yang lagi booming di pinggir Kota Yogyakarta. Tepatnya di Desa Sambirejo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman. Sebuah pangkalan pertambangan batu giring. Kini tengah disulap menjadi bukit wisata yang eksotik.

Materi ‘How to Make a Movie’ mengambil lokasi Tebing Breksi. Cukup menantang juga sih. Meski terus terang, saya blank dengan apa yang harus dilakukan. Mungkin tidak demikian. Bagi yang sudah pernah mengikuti workshop sejenis.

Tapi namanya peserta. Ya manut panitia saja deh. Mbuh, nantinya bakal dikapakke. Hahaha....

Menanti sunset di Tebing Breksi. (Foto pribadi)

Berangkat dari hotel sudah cukup sore. Cuaca sedikit kurang bersahabat. Mendung mengiringi sepanjang perjalanan. Pun saat sampai di Tebing Breksi. Saya bayangkan, tentu akan asoy banget bila langit cerah. Menangkup redup sinar matahari. Saat kembali ke peraduannya.

Setelah sedikit berfoto ria, kami segera menuju pendopo. Bangunan berbentuk limasan berbahan kayu. Menjadi tempat untuk mengenalkan pemateri. Sekaligus membagi peserta menjadi beberapa kelompok kerja.

Mas M. Iqbal sebagai pemateri ke-dua. Membagi peserta menjadi tujuh kelompok kecil. Alhamdulillah, kami berada di kelompok yang beruntung. Beruntung belum pernah membuat video beneran. Hahaha...

Kami disilakan mencari materi video/film dengan tema bebas. Tanpa ribet, kami putuskan untuk bebas juga mengambil foto atau video. Maklum, saya sama sekali tidak paham proses pembuatan film. Jadi saat dibuat kelompokpun saya masih blank.

Jadi begitulah. Kami putuskan secara individu untuk membuat video masing-masing. Yang terbaik yang akan kami presentasikan.

Hampir dua jam kami berada di Tebing Breksi. Jam 19.15 wib., rombongan kamipun balik ke hotel. Menyantap makan malam. Kemudian lanjut dengan materi.

Badan saya sudah terasa pegel-pegel. Tak ambil pikir panjang, saya sempatkan berenang. Biar raga segar kembali tentu saja. Namun ternyata kebablasan. Setelah mandi malam dan rebahan. Saya pun bablas ke sesi mimpi. Huahaha...



Hari Ke-tiga (How To Make A Movie)

Menyambut pagi. Meraih mimpi. (Foto pribadi)

Memasuki hari ke-tiga. Pasca subuhan tak ada lagi acara senam bersama. Sayapun lari kecil mengelilingi Hotel Jayakarta. Lanjut dengan bersepeda. Dua kali putaran cukuplah sudah.

Renang. Menjadi konsumsi wajib mumpung di hotel. Kan lumayan. Biar tubuh menjadi bugar. Meski sebagian peserta sudah memanfaatkan waktu untuk sarapan.

Jam delapan pagi, kami sudah bersiap di ruang Wibisono. Mas Iqbal juga sudah siap untuk melanjutkan materi. Untuk membuka sesi hari terakhir, sebuah film pendek diputarkan.




Cinta Subuh. Film pendek berdurasi 15 menit. Karya dari Film Maker Muslim cukup membuat kami terpana. Apik. Menyentuh. Dan...membuat kami mewek.

Mas Iqbal in action. (Foto Fuji Rahman N.)

Kemudian Mas Iqbal memaparkan berbagai aspek di film tersebut. Dilanjutkan berbagai teori tentang pembuatan film. Mantap. Sayangnya, ini seharusnya di sesi awal sih menurut saya. Bekal penting bagi yang blank seperti saya.

Hingga blank-nya berlanjut saat diminta presentasi. Sebab saya pikir, mengolah videonya pagi itu juga. Ternyata seharusnya sesi malam terakhir itulah video presentasi dibuat. Aduh, Jum!

Hingga dengan kecepatan super kilat. Saya pun segera mengunduh aplikasi pembuat film. Lanjut dengan sedikit mengedit film yang saya sudah buah kemarin. Meski gak jelas banget juga. Wkwkwk...

10 menit kelar juga. Lanjut dengan mengirim ke grup wa workshop. Tatata... film pendek pun siap ditampilan mewakili kelompok dua. Meski di detik-detik terakhir, Mbak Rotun juga mengirim film pendeknya. Minimal untuk menggugurkan kewajiban.

Seperti sudah ditebak. Sesi ini memang milik kelompoknya Mas Aji Sukma dan Mas Ardian. Film maker dan fotografer andal yang bloger juga. Durasi 60 detik begitu terasa padat. Tampilan film pendeknya memang ciamik.

Maka sudah sepatutnyalah saya bisa mencontoh karyanya. Meski harus berdarah-darah. Merdeka!

This Is The Newest Post

13 komentar

Wah malah baru tau kalo di jayakarta ada sepeda jg pak. Eh komennya gak nyambung sm workshop nya ya. Hihi

Workshop yang sarat manfaat dan senang sekali ketemu mas Nuzul

Ada sepedanya, mbak. Langsung ke fitness center.
Santai saja. Komen bebas kok.
Nyepam yg bakal tak hajar.

Wkwkwk...

Mas Nuz, keluarga Sosro Kartono nggak menang... Itu yg menang keluarga lain pak. Iya sih, Sosro family emang ga menang, tapi bisa membeli pemenang, hahaa.. eh, ini contoh pendidikan keluarga yang keliru yaa, hihii

Ini workshop penuh manfaat memang yaaa.. beruntung sekali bisa ikutan. Salam pak Nuzul ��

Mas Gol A Gong itu yg terkenal dgn Golagong bukan mba ?

Waah perjalanan menuju workshopnya seru juga. Saya juga sempat panik takut telat. Pas teman2 udah pada check in saya masih nyuci sprei & bed cover, & vaccum kasur. Walhasil langsung berangkat ke hotel nggak mandi dulu, mandi di hotel heheee

weittt, perasaan kami sebagai juara sesi perkenalan keluarga bukan Sosrokartono dech….

Ehh, yg menang keluarga Pak Joe, di sesi family games! *nggak terima*

Dan, nggak seharusnya Aji Sukma menang di sesi Videografi!
*teteup merasa tidak adil*
*lalu dikeplak Aji*

Wqwqwq.

Baca komen2 pesertanya aja seru, gimana lagi workshopnya ��
Tapi memang keren sih, seru ��

Seru bangeeett, semoga ada acara serupa lagi ya

Ralat dikit pak, yang menang banyak itu keluarga pak paijo. Keluarga pas Sosro sih menang sombong aja. Hahaha. Saya sebagai anak pak Sosro mohon maaf dan maklum atas kelakuan bapak saya yang suka sombong itu, maklum kita orang banyak uang sih. hihihi

Iya, keluarga Sosro Kartono nggak menang, cuma kaya saja sih..hahahaha..*ikutan protes*

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon