Sabtu, 25 Mei 2019

Grebeg Lebaran 2019: Geliat UMKM bersama PLUT Jogja

Agenda yang terpampang di gerbang masuk halaman depan Istana Pakualaman. (dokpri)


Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro,Kecil, dan Menengah disingkat PLUT-KUMKM DI Yogyakarta. Atau lebih familiar disebut dengan PLUT Jogja. Sebab PLUT di bawah tanggungjawab Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta.

PLUT Jogja hadir dengan tujuan sebagai rumah besar UMKM di wilayah DIY. Pemerintah yang memiliki keterbatasan SDM mengambil langkah bijak. Untuk mengimbangi minat usaha masyarakat. Ditandai dengan bermunculannya UMKM-UMKM. Yang merupakan salah satu indikator positif bagi kemandirian usaha masyarakat. Direkrutlah tenaga-tenaga muda profesional untukmendampingi para UMKM tersebut.

PLUT menjadi ajang berbagai aktivitas. Diantaranya adalah program pendampingan, konsultasi , pelatihan, serta aktivitas lain. Guna mendukung dan mengembangkan koperasi dan UMKM. PLUT diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bisnis dan para wirausahawan. Oleh karena itu tenaga pendamping maupun konsultan berbagai dari ragam latar belakang pendidikan. Mulai dari pendidik, pengajar, praktisi, maupun pakar IT.

Beragam produk dari koperasi UMKM yang ditampilkan.(dokpri)

Untuk menunjukkan sebagian hasil ‘tangan dingin’ PLUT Jogja.Digelarlah Grebeg Lebaran. Sebuah gelaran pameran produk kreatif dari beragam pelaku UMKM Yogyakarta. Mulai dari produk makannan, minuman, kerajinan tangan dari beragam bahan. Hingga produk dan inovasi pertanian dihadirkan. Tak kurang dari 50 stan ditampilkan.

Panggung hiburan juga disiapkan dengan berbagai ragam acara menarik.(dokpri)

Tak lupa sebuah panggung hiburan disiapkan. Acara hiburan dan talk show ditampilkan. Untuk menghibur sekaligus menambah wawasan baru bagi pengunjung. Maupun para pemilik stan. Sebagaimana pengalaman saya. Akhirnya tergoda untuk mencoba beragam produk yang ditampilkan.

Hadir bukan untuk merusuh lho. Hahaha,,,, (dokpri)

Bertempat di halaman Pura Pakualaman sayap barat. Pameran berlangsung sejak Jumat, 24 Mei hingga Ahad, 26 Mei 2019. Pameran buka setiap hari dari jam 10.00 – 17.00 WIB. Agak disayangkan, sebab tak berlangsung sampai malam hari. Sehingga memupuskan harapan untuk bisa icip-icip makanan dan minuman. Hahaha...


Rosaline Bolu Thiwul

Mbak Wulan dan produk andalannya. (dokpri)

Nah, beberapa orang profil pengusaha akan saya tampikan. Bagaimana PLUT Jogja telah menciptakan ‘aura positif’ bagi pengembangan usahanya. Hal ini seperti yang telah dirasakan oleh Wulansari.

Perempuan yang akrab dipanggil Wulan telahmengikuti berbagai pelatihan yang diadakan oleh PLUT. Izin usaha, Branding, Packaging, Marketing, hingga meraih sertifikasi halal. Tak lepas dari tangan dingin para profesional PLUT yang mendampingi dan membimbing beliau.
Tak ayal, Rosaline Bolu Thiwul cukup mendapat tempat di hati para pelanggannya. 

Tampilan rasa original dan rasa pandan untuk icip-icip. (dokpri)

Panganan ringan yang terbuat dari bahan tepung thiwul/gaplek. Di tangan Mbak Wulan, panganan olahan dari gaplek telah naik kasta. Produk panganan sehat yang pemanisnya dari gula Jawa. Pun tanpa pengawet maupun pemanis buatan.

Merintis usaha sejak tahun 2016. Kini telah memiliki 4 orang reseller  yang cukup produktif. Tak kurang dari sekitar 500 kotak diproduksi tiap bulannya. Hal ini ditunjang pemasaran via media sosial yang cukup dirasakan dampak positifnya. Lewat facebook dan instagram mencoba peruntungan meraih untung lewat dunia digital.

Hal ini diimbangi dengan kreasi aneka ragam rasa dan topping bolu thiwulnya. Tak kurang dari 5 rasa dan 4 topping. Dari rasa original, pandan, hingga green tea. Bisa juga dikombinasikan sesuai dengan permintaan pelanggan.

Menjawab keluhan konsumen yang siap setiap saat. Di bulan Juni nanti, beliau akan membuka dua outlet sakaligus. Diharapkan konsumen yang butuh mendadak untuk buah tangan. Tak akan kesulitan untuk mendapatkannya. Maklumlah, harga yang ditawarkan cukup miring. Dibandingkan dengan tampilan, rasa, dan packagingnya.

Dipatok dengan harga 25 ribu untukkotak kecil. 40 ribu rupiah untuk kotak besar. Cukup terjangkau bukan?


Pawon Sentono

Mbak Amalia bersama hasil karyanya yang nyam-nyam.(dokpri)

Pengalaman  sedikit berbeda dirasakan oleh Amalia Galuh Yuniarti. Biasa dipanggil dengan Amalia. Dengan branding Pawon Sentono berbagai ragam panganan diciptakan. Meski tak begitu ngoyo. Tak kurang omzet perbulan masih berkisar antara 4 sd 5 juta rupiah. Itupun hampir semua pekerjaan dilakukannya sendiri. Kecuali bila ada pesanan dalam jumlah agak besar. Baru meminta bantuan timnya.

Mengandalkan pemasaran via media sosial. Terutama instagram. Sejak merintis usaha di tahun 2015. Masih cukup baru ya?

Saya sudah rasakan sensasi ramuan Wedang Uwuhnya. (dokpri)

Berbagai ragam panganan dan minuman ditampilkan di dindingnya. Diantara minuman yang ditawarkan meliputi: wedang uwuh, wedang secang, bir plethok, kunyit asam,temulawak, kunyit putih, dan wedang jahe. Ada satu lagi yang namanya lucu, jening. Ramua kombinasi yang merupakan kreasi sendiri.

Kebab dan cireng yang menggiurkan. Sreengg... (dokpri)

Sementara untuk makanan juga cukup variatif. Ada kebab, cireng, pisang lumer, otak-otak tuna, tahu tuna, serta jagung pipil manis. Istimewanya, kebab dan kawan-kawan tadi, mampu bertahan 2 hari di suhu ruangan. Tanpa dimasukkan kulkas atau freezzer. Padahal tanpa bahan pengawet buatan lho.

Harga yang ditawarkan amat terjangkau. Mulai dari harga 17 ribu hingga 25 ribu. Baik untuk minuman maupun makanannya. Ada yang dikemas secara standar. Ada pula yang dikemas secara menarik. Tentu saja jumlah isi dan harganya lain.

Kesemuanya itu tak lepas dari peranan PLUT untuk membuat inovasi. Sekaligus memberi ruang untuk mengenalkan kepada publik. Sebagaimana lewat pameran Grebeg Lebaran yang diinisiasi oleh PLUT Jogja. Ini gratis lho pemirsa. Kurang apa coba?

Oleh karena itu,bagi koperasi maupunUMKM yang belum gabung ke PLUT. Cepetan saja deh. Berbagai macam pelatihan peningkatan kapasistas berwirausaha ditawarkan. Gratis. Bahkan Anda bisa berkesempatan untuk dijadikan mitra CSR berbagai perusahaan atau BUMN.


Pheryno Leather Collection

Dipilih...dipilih...dipilih....(dokpri)

Sementara itu, Mas Pheno (baca: Peno) berkreasi lewat kerajinan kulitnya. Lewat Pheryno Leather Collection, beberapa kali telah mengikuti pameran di luar kota. Bahkan luar pulau. Terakhir di Palembang. Juga pernah sekali di Malaysia dan Singapura.

Sentuhan seni dari tangannya berhasil membuat aneka ragam kerajinan berbahan kulit sapi atau domba dan kambing. Kulit ular pun pernah. Bila memang ada pemesan.

Pria 50-an tahun ini merintis usahanya sejak tahun 2010-an. Berawal dari 2 orang tukang. Hingga kini memiliki  9 orang karyawan. 5 orang penjahit (halusan). 4 orang tenaga mal, gunting,dan lainnya.

Bagi beliau, tak boleh ada sedikit pun bahan yang disisakan. 0% sampah produksi. Demikian mas Yudha, salah seorang karyawannya menyebut. Hal ini memang nampak dari hasl produksinya. Dimana remahan-remahan kulit, dimanfaatkan untuk gantungan kunci atau gelang.

Aneka ikat pinggang dan dompet yang buat mupeng.(dokrpi)

Harga yang dipatok juga tak terlalu tinggi. Dibandingkan dengan mutu bahan dan hasil garapan. Plus keawetanannya tentu saja. Untuk gantungan kunci bervariasi antara 30 – 50 ribu rupiah. Aneka sabuk dengan harga 150 ribu rupiah. Demikian juga untuk dompet dan topi.

Ah,tas ransel itu. Begitu menggoda. (dokpri)

Harga yang sedikit eksklusif adalah tas. Bisa mencapai hampir sejuta rupiah. Juga untuk jaket yang ditawarkan hingga 1,4 juta. Saat ini beliau belum mengotimalkan penjualan via medsos. Masih mengandalkan show room sekaligus workshopnya di daerah Nogotirto, Gamping.

Lewat PLUT Jogja, beberapa kali pula beliau digandeng oleh beberapa perusahaan dan BUMN.Namun sejauh ini, beliau tidak terlalu ngoyo. Mengembangkan usahanya dengan modal yang besar. Dan dari cara berhutang.

Profil lainnya sebenarnya cukup layak untuk ditampilkan. Yang 'kemonceran' usahanya cukup mentereng. Berangkat dari nol. Bahkan dari minus. Tapi daya tahan bantingnya. Membuat mereka tetap bisa bertahan. Bahkan kini sangat layak untuk diandalkan


Tabungan Emas Pegadaian

Pak Hastono yang enak banget diajak diskusi. (dokpri)

Saat bercengkerama dengan para ibu bakul. Tawa renyah pembawa acara talk show menggoda perhatian saya. Wah, rupanya dari PT. Pegadaian yang lagi diwawancarai. Tidak kalah dengan acara tv deh dialognya. Enak dan renyah.

Topik yang diangkat seputar Tabungan Emas. Salah satu program unggulan yang dimiliki salah satu BUMN ini. Cukup menarik, karena serentetan pertanyaan dari emak-emak. Dapat dimaklumi. Urusan per-emas-an, perempuan pasti lebih jago.

Hingga beberapa pemilik stan tertarik untuk langsung membukanya. Membuka Tabungan Emas maksud saya. Sebab saat acara Grebeg Lebaran ini akan diberikan bonus khusus. Yaitu berupa dihapusnya uang pemeliharaan setahun. Besarannya 30 ribu rupiah. Ditambah cindera mata unik. Untuk yang terakhir, kayaknya saya maruk deh. Hehehe...

Pak Hastono selaku Senior Manager Penjualan Pegadaian Area Jogja, memberi penjelasan khusus kepada saya. Sebab saya menanyakan tentang akad tabungan atau jual beli atas emas itu sendiri. Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa menabung dengan cara mencicil itu dilarang.

Luluh juga akhirnya... (dokpri)

Namun dengan gamblang, beliau menyampaikan. Bahwa hukum asal tabungan emas ini adalah diatur dengan cara yang syar’i. Pegadaian konvensional ikut memasarkan produk ini. Agar masyarakat lebih mudah untuk membeli emas.

Tentu saja disertai niat pertama kali. Bila menabung emas ini semata-mata untuk menyimpan uang/harta. Bukan diniatkan untuk mencari selisih jual atas pembelian awal. Sebab jika mencari selisih nilai jual. Jatuhnya menjadi spekulasi. Inilah yang jatuhnya dilarang atau haram.

Semoga disegerakan punya segini saja. Aamiin. (dokpri)
.
Penjelasan yang cukup gamblang. Sekaligus membuat saya tertarik untuk membukanya. Semoga yang sedikit demi sedikit ini. Akhirnya bisa menjadi bukit. Aamiin.



Kering air liur terjebak di blok stan ini. (dokpri)

Alhamdulillah, agenda klinong-klinong di Grebeg Lebaran ini cukup memberi manfaat. Mengetahui serunya proses kemandirian berwirausaha. Peran serta Pemprov DIY lewat PLUT Jogja dan Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Meski belum sempurna. Tapi telah mampu menunjukkan hasil dari upaya pantang menyerah. Bersama-sama membangun sinergi bersama koperasi dan UMKM.

Pun demikian perkenalan saya dengan Tabungan Emas. Eh, Pak Hastono maksud saya. Membuka cakrawala pendapat dalam melihat suatu permasalahan. Sekaligus cukup brilyan juga PLUT Jogja menggandeng PT. Pegadaian di hari ke-2. Untuk membuka lapak sekaligus mengisi acara bincang siang.


Para wirausahawan tentu bisa memanfaatka salah satu fitur dari Pegadaian. Minimal untuk menjaga sebagian modal tanpa perlu waswas. Sebab dalam usaha. Pasti akan ada masa pasang dan surut. Tabungan Emas memberi solusi jangka panjang untuk memberi kenyaman itu.


2 komentar

Bolu tiwul, menarik ya.. inovasi pangan banget, soalnya selama ini kan tepung gaplek biasanya hanya diolah sebagai tiwul, dikasih gulajawa, sama toping kelapa seperti yang dijual di pasar2 tradisional itu ..

Klo kmudian dimodifikasi jadi bolu..pangsa pasar akan makin meluas. Akan lebih banyak yang tertarik...

Betul, Bun. Teksturnya juga lembut banget ternyata. Buat oleh-oleh gak bakalan kalah sama punyanya artis-artis itu lho.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon