Jumat, 30 Agustus 2019

Mengenal Lebih Jauh Pneumonia Bersama Jurnalis Sahabat Anak

Dr. Leny Kartina, Sp.A. (kiri) menjadi moderator pada sesi pertama.


Beruntung. Yups, satu keberuntungan kemarin saya dapatkan. Ketika menjadi salah satu dari 5 orang bloger/netizen yang diundang oleh JADE Sanus Indonesia yang menaungi Jurnalis Sahabat Anak (JSA). Sebuah komunitas jurnalis yang konsens terhadap isu-isu kesehatan kekinian. Termasuk di dalamnya tentang isu Pneumonia. Bekerjasama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur dan Pfeizer.

Satu penyakit mematikan. Dimana diantara 3 kasus kematian bayi di dunia. Pneumonia menjadi penyebab 2 kematian diantara. Sangat mengerikan bukan?


Bersama para pakar di bidangnya. Sekaligus pemegang regulasi tertinggi di Jawa Timur. Selama hampir 5 jam kami berdikusi. Mengangkat tema Menebar Aksi Melawan Pneumonia. Sebuah tema yang tidak seksi. Namun khalayak harus tahu.

Para jurnalis dan bloger yang sangat antusias menyimak paparan para panelis. (foto dokpri)

 Bertempat di Ballroom Hotel Kempi Surabaya, Rabu (28/8), acara tersebut dilangsungkan. Bersama 30-an jurnalis berbagai media kami berdiskusi. Membedah penyakit Pneumonia dari hulu hingga hilir. Dalam suasana yang serius tapi santai. Kekepoan kami atas tema yang disajikan sedikit terkuak.

Penyelenggara membagi panel dalam dua (2) sesi. Sesi pertama, dr. Kohar Hari Santosa, ApAn.KIC.KAP. (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur), sebagai panelis pertama. Panelis ke-dua adalah Dr. M. Athoillah Isfandiari, dr.,M.Kes (Pakar Epidemologi FKM Unair Surabaya).


Sesi Pertama

dr. Kohar Hari Santoso menyampaikan paparannya. (foto dokpri)

dr. Kohar Hari Santoso, Ap.An. KIC.KAP, selaku Kepala Dinas Kesehatan Prov. Jawa Timur menyampaikan paparannya. Membahas tentang Pneumonia dan Situasi Terbaru di Jawa Timur. Beliau menyampaikan sedikit tentang sejarah serta kejadian kekinian pneumonia. Berikut tentang rencana serta tindaklanjut kebijakan institusinya untuk mencegah meningkatnya penderita pneumonia.

Penyampaian materi beliau cukup sistematis dan padat. Sedikit membuka wawasan kami tentang pneumonia. Termasuk bagaimana Dinkes Prov. Jatim telah berusaha secara optimal. Memanfaatkan jejaring kesehatan yang ada untuk lebih menekan secara dini penderita pneumonia.

Untul diketahui, pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Menjadi penyumbang tertinggi penyebab kematian pada bayi dan balita. Dimana 74% (92.913 kasus) adalah diderita oleh balita. Sementara sisanya, 26% (32.910 kasus) diderita oleh mereka yang berusia 5 tahun ke atas.

5 langkah strategi pengendalian pneumonia telah ditetapkan. Kepala daerah menjadi pengambil kebijakan utama. Hal ini tak lepas dari era otonomi daerah. Dimana kepala daerah cukup berpengaruh untuk menentukan skala prioritas pekerjaan. Termasuk dalam kebijakan pencegahan penyakit pneumonia. Sebab begitu mahalnya tindakan pengobatan jika penderita penyakit tersebut.

Menjadi negara ke-4 teratas dengan jumlah terbanyak anak-anak yang belum diimunisasi. Hampir satu juta anak yang belum divaksinasi. Atau hanya mendapatkan sebagian dari vaksinasi. Puluhan ribu diantaranya meninggal dunia. Dimana penyakit tersebut sebenarnya bisa dicegah dengan cara vaksinasi. Dua diantaranya adalah diare dan pneumonia.

Hal ini tak lepas juga dari masih terbatasnya tenaga kesehatan yang cakap mendeteksi pneumonia. Oleh karena itu, pemerintah lewat Dinkes Prov. Jatim berupaya memperbanyak pelatihan bagi tenaga medis dan paramedis. Bagaimana mendeteksi pneumonia sejak dini. Sebab gejala pneumonia awal hampir mirip dengan penyakit gangguan saluran pernafasan lainnya.

dr. Athoillah sebagai panelis ke-2. (foto dokpri)

Pemateri ke-2, Dr. M. Athoillah Isfandiari, dr.,M.Kes (Pakar Epidemologi FKM Unair Surabaya) secara spesifik membedah apa itu pneumonia. Mengusung tema Pneumonia Dan Kesehatan Masyarakat Jawa Timur beliau menjelaskan pemetaan wilayah yang rentan terhadap penderita pneumonia. Khususnya pada penderita anak.

Tahun 2015, Indonesia adalah 1 diantara 10 negara dengan kematian balita tertinggi di dunia. Jumlah 147 ribu kasus kematian. 17% diantaranya disebabkan oleh pneumonia.

Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Sebab faktor risiko pneumonia pada anak cukup besar. Diantara adalah usia anak, riwayat pemberian ASI, asupan gizi, terpapar asap rokok, imunisasi lengkap, dan yang lain. Penyebab tersebut jamak terjadi di tempat kita. Karena kesadaran terhadap perilaku hidup sehat masih belum bagus.

Ditambah dengan prioritas tindakan pencegahan yang masih rendah. Kecenderungan sakit baru berobat masih menjadi kebiasaan. Padahal imunisasi menjadi salah satu tindakan preventif yang cukup ampuh. Tindakan pencegahan bisa memangkas 1/3 dari tindakan pengobatan.

Sesi doorstop menjadi sesi 'buruan'  para jurnalis. (foto dokpri)

Selanjutnya sesi pertama berakhir sekitar jam 10.45.  Sebelum ditutup, dibuka sesi tanya jawab. Antusiasme peserta cukup tinggi. Mengingat para bloger dan jurnalis berasal dari daerah yang memiliki jumlah penderita pneumonia tinggi. Termasuk Mojokerto, daerah asal saya. Hingga di depan pintu lift-pun, dr. Kohar masih ‘diberondong’ dengan banyak pertanyaan.


Sesi Ke-dua

Arie Rukmantara, perwakilan UNICEF di P. Jawa. (foto dokpri)

Sekitar jam 11.00 sesi ke-dua dilanjutkan. Dua pemateri dihadirkan. Arie Rukmantara dan Dr. Dominicus Husada. Materi yang disampaikan pun tak kalah menarik dengan sesi pertama.

Kesempatan pertama, Arie Rukmantara selaku Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa. Beliau memperoleh posisi demikian, tak lepas dari latar belakang pekerjaan sebelumnya. Sebagai seorang mantan jurnalis yang banyak bergelut dengan tema-tema kesehatan di daerah. Didukung kemampuan penguasaan bahasa asing yang dimiliki tentu saja.

Ketika banyak jurnalis merasa bangga bila ditempatkan di kota besar. Tidak demikian dengan Mas Arie. Penempatan di daerah justeru akhirnya lebih membuatnya paham masalah-masalah mendasar di daerah. Isu kesehatan khususnya merupakan tema yang jarang diangkat ke permukaan. Kecuali bila ada kasus besar.

Pengalaman bergelut dengan isu-isu kesehatan ini ternyata membawa hikmah. Pengalaman tersebut mengantarkan beliau sebagai ‘kepanjangantangan’ UNICEF di P. Jawa. Hal ini pula yang mendorong untuk mengajak rekan-rekan jurnalis agar lebih peduli pada isu kesehatan. Hingga sekitar 2016 yang lalu bersama beberapa jurnalis menginisiasi terbentuknya Jurnalis Sahabat Anak (JSA). Sehingga sangat pas ketika membawakan materi Pneumonia in Indonesia and The World.

dr. Domi, panelis terakhir di sesi ke-dua. (foto dokpri)

Selanjutnya, Dr. Dr.  Dominicus Husada, Sp.AK. (IDAI) menyampaikan materi ke-2. Tema Pneumonia dan Potensi Ancamannya disampaikan secara lugas. Pakar kesehatan anak di Surabaya ini cukup disibukkan dengan berbagai aktivitasnya. Selain sebagai praktisi, beliau juga seorang pendidik dan peneliti. Ada satu alasan spesifik. Mengapa beliau begitu peduli pada penyakit pneumonia. Didasari atas ‘ketidakpedulian’ pemerintah terhadap upaya-upaya pencegahan pencegahan penyakit.

Sentilan atas kebiajakan pemerintah pusat. Dimana lebih mengangkat isu perpindahan ibukota. Dibandingkan bagaimana agar derajat kesehatan masyarakat menjadi lebih baik. Termasuk di dalamnya mendukung upaya-upaya tindakan preventif terhadap pencegahan penyakit. Khususnya pada anak-anak dan balita.

Berbagai upaya beliau lakukan agar Vaksin PCV dapat menjadi salah satu vaksin wajib. Tidak ada jalan lain yang ‘ampuh’. Mengingat mahalnya vaksin ini. Sehingga pemerintah wajib untuk memasukkannya sebagai salah satu paket imunisasi lengkap. Sebab dengan demikian, pemerintah menanggung seluruh biaya pengadaan dan pendistribusian vaksin tersebut.

Peserta yang dapat hadiah pasti hantinya berbunga-bunga. (foto dokpri)

Nah, sebelum acara ditutup. Pembagian doorprize juga momen yang ditunggu oleh peserta lho. Cukup banyak hadiah yang disediakan oleh panitia. Alhamdulillah, saya menjadi salah satu pemenangnya. Yang paling gede lagi.


Ini kok jadi gagal fokus ya? (foto dokpri)

Tentu saja, bagi saya kegiatan ini sebenarnya tak akan pernah berakhir. Sebab sebagai bloger, tema kesehatan menjadi tema yang sangat menarik. Sebab siapa sih yang tak suka sehat? Kesehatan adalah sesuatu yang amat mahal dalam kehidupan kita. Oleh karenanya, menjadi sehat dan mengajak orang lain untuk berperilaku hidup sehat adalah menjadi hal yang wajib.

Bila tidak kita lakukan sekarang. Mau kapan lagi?






Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon