Jumat, 20 September 2019

Tetap Senyumlah Untuk Dunia, Silfiku Sayang

Silfi yang tetap optimis meski nyeri itu selalu tak mau enyah. (foto dokpri)

“Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas. Bukan pula keikhlasan jika masih merasa sakit.”

Sebuah kalimat bijak yang kini harus dijalani oleh ananda Silfi. Nama panggilan dari Silfi Qumairo. Yang kini hanya bisa berbaring lemah. Atau terpaksa duduk karena terlalu lelah berbaring.


Tak nampak lagi senyum ceria di bibir gadis kecil ini. Karena kanker stadium ke-4 telah menggerogoti kekuatan senyum itu. Kecuali saat kamu mencoba untuk mengajaknya bergembira. Bercerita tentang sekolah. Atau harapan bahwa Allah Ta’ala akan memberikan hadiah yang indah.

Awal April 2019. Menjadi permulaan penderitaan gadis yang lahir 14 tahun yang lalu. Saat jatuh di sekolah dan mendapat luka. Karena keterbatasan pengetahuan. Luka itu dianggap biasa saja.

Sang ibu di depan rumah mungilnya. (foto dokpri)

Hanya pergi ke tukang pijat. Demikian Mbak Faizun, ibunda Silfi, bercerita kepada saya. Hingga luka itu terasa nyeri dan mengganggu. Barulah sang ayah membawanya ke Puskesmas Brangkal.

Sempat menjalani rawat inap. Namun akhirnya harus dirujuk ke RSI Sakinah Mojokerto. Karena kondisi tak berangsur membaik.  Pun demikian yang terjadi di rumah sakit tersebut. Ternyata harus dirujuk ke RSUP Dr. Soetomo Surabaya.

Hari terus berjalan. Gadis kecil pendiam ini masih saja bersemangat. Mencoba menjalani ujian akhir sekolah kelas dua-nya. Berharap bahwa hidup akan tetap baik-baik saja. Meski kenyataannya tidaklah demikian.

Hanya mampu menyelesaikan hari ke-2 saja. Rasa nyeri tak terperi dari lututnya yang kian membesar. Rupanya kanker yang menggerogoti lewat luka itu tak mau diam. Memaksa keduaorangtuanya untuk berjibaku. Pun dengan tetangga sekitarnya yang tak tinggal diam. Biaya mondar-mandir Mojokerto – Surabaya tentulah tak kecil.

Sebagai seorang kuli bangunan. Moh Gozali tentu merasakan kekhawatiran tak terperihkan. Ingin segera menyembuhkan sang puteri. Sementara di sisi lain, kondisi ekonominya membuatnya serba salah. Ini juga yang sempat disesalkan oleh salah seorang tokoh masyarakat setempat. Beliau berpikir bahwa sakitnya Silfi biasa-biasa saja.

Bengkak itu kian membesar. (foto dokpri)

Hingga beliau ‘tak tahan’ untuk berbagi info lewat sebuah WA grup warga desa. Sontak hal ini membuat kami kaget. Seorang puteri warga Desa Kedungmaling RT10/RW04 menderita kanker stadium IV. Demikian kami mengenalnya. Meski diagnosa tepatnya adalah: malignant neoplasm of bone and articular cartilage.

Saat ini ananda Silfi masih dirawat di rumah. Telah menjalani paket kemoterapi dan scan MRI. Yang hasilnya kemungkinan baru disampaikan akhir minggu ini. Bersyukur bahwa pemerintah lewat BPJS Kesehatan  (BPI) telah menutup semua biaya perawatan.

Ada yang membuat saya gembira. Silfi nampak kuat. Meski erangan dan tangisan menyelingi. Dia mengangguk pasti saat saya tanya tentang tindakan medis berikutnya.

Justeru sayalah yang harus kuat. Agar bulir-bulir bening tak jatuh dari kelopak mata saya. Amputasi. Sebuah kata yang seolah mengiris-iris hati saya. Dan gadis ini tahu. Bahwa itulah yang akan dihadapinya. Astaghfirullah...

Sambil menunggu proses operasi. Kami telah mencoba menghubungi 2 buah rumah singgah di Surabaya. Alhamdulillah, mereka siap menampung kami kapan saja. Pra sampai dengan pasca operasi. Maklumlah, kondisi badan Silfi harus dijaga selalu.

Rumah Silfi di gang sempit di sisi kiri jalan itu. (foto dokpri)

Kami juga mencoba meyakinkankan sang ayah. Bahwa kami tak akan tinggal diam. Berusaha seoptimal mungkin untuk mendukung kesembuhan sang anak. Pun saya yakin dengan para pembaca tulisan saya ini.


---- Mojokerto, 19 September 2019 ----

This Is The Newest Post

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon