Minggu, 22 Desember 2019

Ranking Kelas Bukan Segalanya

Tags




“Bi, maaf ya. Kayaknya Ana gak dapat ranking kali ini.”

“Kenapa, Mbak?” tanyaku santai.

“Ada tiga pelajaran yang kurang meyakinkan. Nilainya maksudku,” ucapnya sambil mempermainkan jari-jari tanganku. Kebiasaan sedari kecil. Saat dia ingin bercerita kepadaku.


“Gak apa-apa. Gak usah terlalu dipikirkan! Yang penting, Mbak Ana paham dengan apa yang sudah dipelajari. Itu sudah lebih cukup bagi abi,” aku pun mencoba menghiburnya. Puteri ke-tiga kami yang galau memikirkan ranking kelasnya.

Satu hal yang sebenarnya tak terlalu saya permasalahkan. Meski sedikit berbeda dengan isteriku. Umminya tetap berharap, Ana mendapatkan peringkat terbaiknya. Seperti kakak-kakaknya.

Standar tinggi telah dibuat oleh mbak dan mas-nya. Tak pernah lepas dari ranking tiga. Sejak bersekolah secara ‘normal’. Sekolah yang benar-benar sekolah. Dengan kurikulum yang direkomendasikan oleh Kemendiknas maupun Kemenang.

Menempuh pendidikan sekolah dasar di ponpes tahfiz Al-Qur’an. Bagi kami merupakan hal yang amat penting. Memberikan pondasi yang kuat bagi masa depannya. Meski kata Mendiknas, Nabil Makarim, pelajaran menghafal tidaklah penting. Emangnye gue pikirin, kata orang Betawi.

Meletakkan pondasi agama dalam kehidupan kami adalah hal yang utama. Menghafal Al-Qur’an (dan hadis-hadis pilihan) menjadi kurikulum wajib yang kami jalankan. Sebagaimana manusia panutan kami memberikan contoh. Manusia terbaik yang pernah di hadirkan Allah Ta’ala di muka bumi ini.

Alhamdulillah, selepas madrasah ‘ula atau madrasah ibtida’iyah, anak-anak telah memiliki hafalan Al-Qur’an yang baik. Lewat hafalan itu pula berbagai prestasi telah ditorehkan. Satu hal yang menjadikan kami bersyukur. Bahwa tak akan ada yang sia-sia. Bila segala sesuatu dikerjakan dengan niat yang luruh. Ditambah dengan usaha yang keras.

Hal ini terkadang sedikit melenakan. Berpikir bahwa anak-anak harus menjadi yang terbaik. Menjadi pemilik peringkat tinggi di kelompok belajarnya. Satu hal yang kami anggap wajar. Meskipun saya menganggapnya tak terlalu penting.

Beda pemikiran saya dengan anak-anak. Justeru karena terbiasa menetapkan target (tinggi). Mereka akan kecewa bila targetnya tak terpenuhi. Di satu sisi ada baiknya. Dimana mereka akan berusaha belajar dengan keras. Sementara sisi buruknya adalah kecewa. Meski hal tersebut sebenarnya cukup manusiawi. Di sinilah saya menempatkan diri sebagai penghibur mereka.

Pun kali ini. Ternyata benar. Ana tak mendapatkan juara umum. ‘Hanya’ peringkat tertinggi di kelasnya. Bagi kami hal ini sudah luar biasa. Enam bulan belajar keras. Jauh dari rumah dan orangtuanya.

Mandiri sejak usia dini. Memasuki usia tujuh tahun sudah berpisah. Ratusan kilo meter jarak yang kami tempuh untuk melepas rindu. Pondok pesantren menjadi rumah ke-duanya. Yang sering menjadi bahan guyonan diantara kita. Saat di ponpes ingin segera pulang. Saat di rumah bosan, ingin segera balik ke ponpes. Hehehe...

Seni kehidupan telah kami ajarkan sejak usia dini. Sebagaimana para pencari ilmu di masa salafus salih. Menempuh jarak ratusan, bahkan ribuan kilo meter untuk mencari ilmu. Tanpa mengenal lelah. Apalagi berkeluh-kesah. Semata-mata mencari ridha Illahi Rabbi.

Oleh karenanya, ranking bukanlah segala-galanya. Ranking terbaik di akhirat itulah yang menjadi tujuan utamanya. Sedangkan ranking di dunia menjadi hiburan. Hadiah atas kerja keras yang telah dilakukan dalam periode tertentu.


Selamat ya, Nak. Berapa pun rankingmu. Kalian tetap yang terbaik bagi kami.

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon