Selasa, 29 September 2020

Seminar On The Road: Pranatan Anyar Plesiran Jogja

 

Kami harus memberikan solusi di tengah pandemi.

Tak ada yang diuntungkan dari pandemi ini. Demikian satu kalimat yang terlontar dari Malia Uti. Salah satu nara sumber Seminar On The Road. Kegiatan yang dihelat oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Ahad (27/9) kemarin. Acara yang digelar untuk memperingati Hari Pariwisata Sedunia ke-40 ini mengambil tema “Bantu - Tourism in New Normal Era: Cleanliness, Health, Safety, and Environtmental”.


Enam sampai tujuh bulan bukanlah waktu yang pendek untuk ‘tiarap’. Para pelaku industri pariwisata sudah banyak yang kolaps. Sebagaimana yang terjadi di Provinsi DIY. Dimana pada tahun 2018, tercatat pergerakan wisatawan baik wisman maupun wisnus sebesar 26.515.788. Dimana prediksi tahun 2019 lebih dari 30 juta wisatawan. [Sumber: Statistik Kapriwisataan DI Yogyakarta 2018]


Seminar di atas jalan asyik juga ternyata.

Khusus untuk wilayah Kabupaten Bantul tercatat sebanyak 8.840.442 wisatawan. Bila angka akurasi meleset  5% saja, maka hampir 10 juta wisatawan yang bekunjung di tahun 2018. Sementara itu, menurut catatan dari Dinas Pariwisata Bantul bahwa kunjungan wisatawan adalah lebih dari 3 juta pada 2019 kemarin. Kunjungan ke obyek-obyek wisata yang tersebar di 17 kecamatan se-Kabupaten Bantul.


Tercatatat kunjungan terbanyak adalah di Pantai Parangtritis. Salah satu pantai yang masih menjadi jujugan terfavorit bagi para wisatawan. Tercatat 2,5 juta wisatawan yang berkunjung. Dengan pemasukan sebesar 23,7 milyar. Hampir 80% pendapat sektor pariwisata Bantul 2019 berasal dari Pantai Parangtritis.


Bertebaran spot cantik sepanjang perjalanan.

3.000 kunjangan wisatawan di hari biasa. Sementara 5.000-an kunjungan di akhir pekan tentu bukan angka yang main-main. Namun efek pandemi, di bulan Agustus 2020 kemarin ‘hanya’ mencatatkan angka 32.000. Sebulan pasca dibukanya secara bertahap dengan protokol kesehatan yang cukup ketat. Lanjut Dra. Malia Uti yang merupakan anggota Divisi Tour dan Promosi ASITA Prov. DIY., sekaligus anggota Badan Promosi Pariwisata Kab. Bantul.


Kreasi di tengah pandemi yang digagas oleh Dinpar Kab. Bantul ini diharapkan menjadi solusi. Bagaimana tetap bisa beraktivitas secara bersih, sehat, aman, dan berwawasan lingkungan tentu saja. Tidak mudah memang. Namun tak ada yang tak mungkin. Bagaimana semua lini yang sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali ‘bisa bernafas’. Meski tetap dengan melaksanakan pembatasan-pembatasan tertentu.


Para pedagang kecil inilah penggerak ekonomi masyarakat sesungguhnya.

UMKM inilah penggerak sejati roda perekonomian di lapisan menengah dan bawah. Sebagaimana usaha transportasi yang telah, sedang, dan akan menjadi andalan. Seiring dengan telah dibukanya Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Dimana diprediksikan akan terjadi 20 juta pergerakan penumpang per tahunnya. Meski badai pandemi menghantam di tahun pertama operasionalnya.


Jarak bandara lumayan jauh dari pusat kota. Tentu ini akan membuka peluang baru. Menumbuhkan dan mengembangkan sektor pariwisata yang berdekatan dengan bandara. Kab. Kulonprogo dan Kab. Bantul harus dapat menangkap peluang tersebut. Apalagi beberapa pantai eksotik di wilayah Bantul, jaraknya cukup dekat dengan bandara baru ini. [bersambung...]

Karena semua orang bebas berpendapat, maka mohon komentar yang positif dan membangun. Jangan nyepam, plis. Kasihan yang mau komentar beneran. Matur nuwun atas pengertiannya ya.
EmoticonEmoticon